Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif. (Foto: ANTARA/HO-Kemenperin).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelan tapi pasti, nilai tukar rupiah terus melemah hingga nyaris ke level Rp17.800, tepatnya Rp17.795 per dolar AS (US$) saat penutupan Selasa (26/5). Ambruknya rupiah ini tentu saja sangat dirasakan kalangan pengusaha, khususnya mereka yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan terhadap industri nasional, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor. Pemerintah pun mulai mendorong pelaku industri mengurangi ketergantungan terhadap transaksi dolar AS.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, sekitar 24 persen struktur bahan baku industri nasional, berasal dari impor. Kondisi ini membuat biaya produksi rentan naik ketika rupiah mengalami tekanan hebat seperti saat ini.
“Struktur input industri, terutama bahan baku, sebesar 24 persen adalah impor. Selain krisis di Selat Hormuz, saat ini, kita mengalami pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Febri di Jakarta, dikutip Rabu (27/5/2026).
Untuk mengatasinya, kata Febri, pemerintah mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) diperluas. Khususnya untuk transaksi bahan baku impor. Artinya, transaksi impor bahan baku dilakukan dengan mata uang lokal alias masing-masing negara, bukan menggunakan dolar AS yang nilainya tinggi.
“Kita mengimbau industri menggunakan fasilitas LCT dari Bank Indonesia (BI). Untuk mengurangi beban mereka dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujar Febri.
Jika impor bahan baku dilakukan dengan skema LCT, kata Febri, beban pengusaha tidak akan membengkak. Hanya saja, penggunaan mata uang lokal perlu kesepakatan kedua belah pihak.
“Jadi pembelian bahan baku oleh industri, oleh importir yang memasok bahan baku ke industri, itu tidak menggunakan dolar, tapi menggunakan mata uang lokal,” jelas Febri.
Selain itu, pelaku industri juga diminta mulai mengubah sumber bahan baku impor dari negara lain guna mengurangi risiko gangguan rantai pasok global. Langkah ini dinilai penting di tengah ketidakpastian global, termasuk tensi di kawasan Selat Hormuz.
Tak hanya itu, Febri juga mendorong investor membangun fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri untuk menggantikan impor. Menurutnya, kondisi saat ini bisa menjadi momentum memperkuat industri substitusi impor di Indonesia.
“Atau juga pada investor kami sampaikan, inilah saatnya bagi investor untuk membangun, berinvestasi di Indonesia untuk membangun fasilitas produksi yang memproduksi substitusi bahan baku impor,” tutup Febri.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













