PT Tunas Mekar Jaya melepas 25 juta lembar saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) senilai Rp157,5 miliar di tengah rencana BEI naikkan aturan free float 15%. (Foto: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
PT Tunas Mekar Jaya resmi mengurangi porsi kepemilikannya di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Dalam aksi korporasi terbarunya, pemegang saham tersebut melego total 25 juta lembar saham CBDK dengan nilai transaksi mencapai Rp157,5 miliar.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham yang dirilis pada Jumat (20/2/2026), aksi divestasi ini dilakukan dalam dua tahap transaksi. Transaksi pertama terjadi pada 12 Februari 2026 sebanyak 17,5 juta lembar, disusul transaksi kedua pada 18 Februari 2026 sebesar 7,5 juta lembar.
Kedua transaksi tersebut dieksekusi pada harga Rp6.300 per lembar saham.
Kejar Momentum Realisasi Investasi
Manajemen Tunas Mekar Jaya menegaskan bahwa tujuan dari pelepasan aset ini murni untuk realisasi nilai investasi. Pasca-transaksi, jumlah kepemilikan saham Tunas Mekar Jaya di CBDK menyusut cukup signifikan.
Sebelumnya, Tunas Mekar Jaya mengantongi 77.519.380 unit saham atau setara 1,37 persen hak suara. Kini, posisinya tersisa 52.519.380 unit saham atau mencakup 0,93 persen dari total saham beredar.
Menakar Aturan Baru Free Float BEI
Aksi jual ini menarik perhatian pelaku pasar, mengingat Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah bersiap menerapkan reformasi pasar modal yang lebih ketat. Mulai Maret 2026, BEI dijadwalkan menaikkan batas minimal saham publik (free float) dari semula 7,5 persen menjadi 15 persen.
Langkah BEI ini merupakan respons atas masukan lembaga indeks internasional, MSCI, sekaligus upaya menyesuaikan standar bursa dengan level global.
Data per Januari 2026 menunjukkan porsi free float CBDK berada di angka 12 persen. Artinya, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk masih memiliki ‘pekerjaan rumah’ untuk menambah porsi saham publik sebesar 3 persen lagi demi memenuhi ambang batas minimal yang ditetapkan otoritas bursa bulan depan.
Meski Tunas Mekar Jaya bukan pengendali, aksi divestasi ini memberikan likuiditas tambahan di pasar saat emiten dituntut untuk lebih terbuka kepada publik. Kini, pasar menanti apakah langkah divestasi ini akan diikuti oleh pemegang saham besar lainnya guna mengejar tenggat waktu aturan free float Maret mendatang.













