Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih. (Foto: Dok. SPI).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih menegaskan, gejolak harga pangan yang kerap terjadi saat Ramadan hingga menjelang Lebaran, tidak dapat dilepaskan dari persoalan produksi dan kebijakan pangan nasional.
“Setiap menjelang Ramadan, kita hampir selalu melihat gejolak harga pangan. Namun persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari sisi pasar atau distribusi saja, melainkan juga dari kondisi produksi dan situasi petani di lapangan,” ujar Henry, Jakarta, dikutip Minggu (15/3/2026).
Henry menekankan, pentingnya memperkuat produksi pangan nasional dengan berpihak pada petani, sebagai produsen utama pangan. Dikatakan, kebijakan pangan yang tidak memperhatikan kesejahteraan petani justru berpotensi memperlemah kedaulatan pangan nasional.
Sementara pakar pangan, Khudori menegaskan, kenaikan harga pangan pada Ramadan, merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi karena meningkatnya konsumsi masyarakat.
“Dari pengalaman dua puluh tahun terakhir, inflasi pada Ramadan hampir selalu terjadi karena konsumsi meningkat. Karena itu, kebijakan stabilisasi pangan harus benar-benar memperhatikan aspek produksi, distribusi, dan cadangan pangan secara menyeluruh,” kata Khudori.
Dia menjelaskan, meskipun sejumlah data resmi menunjukkan kondisi pasokan pangan relatif aman, berbagai faktor risiko masih perlu diantisipasi, terutama yang berkaitan dengan iklim dan situasi global.
“Data memang menunjukkan sejumlah komoditas seperti beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai, telur, daging ayam, daging sapi hingga gula pasir dalam kondisi surplus. Tetapi kita juga harus memperhatikan faktor lain yang belum tentu tercermin dalam data tersebut,” ujar Khudori.
Ia menyoroti peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi datangnya musim kering lebih awal di sejumlah wilayah yang dapat berdampak pada produksi pangan.
“BMKG menyampaikan bahwa musim kering bisa datang lebih awal dan lebih dari 60 persen wilayah yang terdampak mengalami curah hujan di bawah normal,” jelasnya.
Selain faktor iklim, Khudori juga mengingatkan bahwa situasi geopolitik global dapat memengaruhi biaya produksi dan harga pangan di dalam negeri.
“Konflik internasional juga perlu diperhitungkan karena dapat berdampak pada kenaikan harga energi, logistik, hingga biaya produksi. Jika harga bahan bakar naik, maka biaya transportasi, asuransi, dan distribusi juga ikut meningkat yang pada akhirnya memengaruhi harga pangan,” tambahnya.
Menurut Khudori, ketersediaan pangan secara nasional juga belum tentu menjamin stabilitas harga jika distribusi tidak berjalan dengan baik.
“Ketersediaan yang surplus tidak banyak manfaatnya jika tidak terdistribusi secara merata. Kalau pangan tersedia tetapi hanya menumpuk di gudang dan tidak sampai ke wilayah yang membutuhkan, maka secara fisik masyarakat tetap tidak bisa mengaksesnya,” ujarnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












