PEPS Bongkar Kelemahan Data Laksamana Sukardi yang Bandingkan Proyek Kereta Whoosh Vs Shinkansen

Iwan Medium.jpeg

Senin, 17 November 2025 – 13:59 WIB

Para penumpang turun dari kereta peluru alias Shinkansen yang berhenti mendadak akibat listrik padam di Saitama, dekat Tokyo, Jepang, Selasa (23/1/2024). [foto: Kyodo News]

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekonom senior dari Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan langsung merespons tulisan dari mantan Menteri BUMN, Laksamana Sukardi berjudul ‘Debat Kusir Whoosh’.

Anthony mempertanyakan dasar alasan Laksamana yang menyebut, biaya pembuatan Kereta Whoosh haruslah apple to apple. Nah, yang mendekati itu adalah proyek Maglev Chuo Shinkansen dari Tokyo-Nagoya.

“Kereta Whoosh yang biayanya sekitar 51,3 juta dolar AS per kilometer, harus dibandingkan dengan proyek Chuo Shinkansen Jepang yang biayanya 100 juta dolar AS per kilometer. Karena, karakteristik medannya sama. Didominasi terowongan dan viaduk,” kata Laksamana.

Mantan kader PDIP yang kemudian mendirikan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) itu, mempertanyakan alasan pemilihan jalur Kereta Whoosh harus melewati medan berat.  Ha itu perlu dikaji ulang agar bisa lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.

Kali ini, Anthony tak sepakat jika biaya proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau Kereta Whoosh dibandingkan dengan biaya proyek Maglev Chuo Shinkansen dari Tokyo-Nagoya. “Karena Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya tidak dapat dibandingkan dengan Kereta Whoosh,” kata Anthony, Jakarta, Senin (17/11/2025).

Bukan hanya medan konstruksi yang berbeda, lanjut Anthony, teknologi kedua kereta cepat itu, sangat jauh berbeda. Bahkan boleh diumpamakan ‘bumi dan langit’.

“Pertama, teknologi kereta cepat Maglev (Magnetic Levitation) yang ‘terbang’ melayang, jauh lebih canggih dan kompleks ketimbang teknologi kereta cepat Jakarta Bandung atau Whoosh yang bergerak di atas roda. Jadi, nothing to compare,” kata Anthony.

Kedua, lanjutnya, kecepatan Kereta Cepat Maglev Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya bisa mencapai 500 kilometer (km) per jam, bahkan bisa lebih kencang lagi hingga 600 km per jam. Sedangkan kecematan maksimal Kereta Whoosh sekitar 350 km/jam.

Ketiga, medan pembangunan konstruksi Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya jauh lebih kompleks ketimbang Kereta Whoosh. Di mana, rute Chuo Shikansen sekitar 90 persen terdiri dari terowongan, kedalaman 40 meter di bawah tanah.

“Jadi, menyebut Kereta Whoosh seharusnya dibandingkan dengan Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya, jelas-jelas misleading,” ungkapnya.

Selanjutnya dia mempertanyakan missleading ini disengaja atau tidak. Kalau disengaja, berarti tulisan tersebut bertujuan untuk mendiskreditkan sejumlah pengamat dan ekonom yang selama ini bersuara keras terhadap proyek Kereta Whoosh.

Bahkan banyak kalangan yang mendesak dilakukannya proses hukum terkait dugaan korupsi dan mark-up dalam pelaksanaan proyek Kereta Whoosh. “Atau memang ada tujuan atau maksud tertentu,” pungkas Anthony. 
 

Topik
Komentar