Pengamat: Pekan Depan, Rupiah Diprediksi Masih ‘Letoi’, Ini Pemicunya

Clara Medium.jpeg

Minggu, 24 Mei 2026 – 04:09 WIB

Nilai tukar rupiah menguat 62 poin ke level Rp17.325 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi. (Foto: Antara)

Nilai tukar rupiah menguat 62 poin ke level Rp17.325 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi, tekanan terhadap nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), masih akan terjadi di pekan depan.

Kemungkinan, kata Ibrahim, kurs rupiah terhadap mata uang negeri ‘Uncle Sam’ pada perdagangan Senin (25/5/2026),  bertengger di kisaran Rp17.800 per dolar AS (US$).

Adapun, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (22/5) terkoreksi cukup dalam yakni 50 poin, atau melemah 0,28 persen ke level Rp17.717/US$. “Kemungkinan besar di minggu depan hari Senin rupiah dibuka melemah juga di Rp17.710 sampai Rp17.760.  Untuk sepekan di Rp17.680 sampai Rp17.800,” ujar Ibrahim kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Ibrahim mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah di pekan depan, kemungkinan masih dipicu kombinasi sentimen. Yakni, faktor eksternal berupa masih tingginya suku bunga surat utang AS atau US Treasury serta geopolitik di Timur Tengah.

Sementara faktor internal meliputi target pertumbuhan ekonomi 2027 yang cukup ambisius di level 5,8-6,5 persen. Termasuk pembentukan BUMN baru yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) selaku eksportir tunggal untuk komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), batu bara dan besi paduan (ferroalloy), mendapat respons negatif dari pelaku pasar.

“Pasar tampaknya khawatir akan terjadinya monopoli lewat terbentuknya PT DSI. Sehingga membuat pergeseran arus modal asing yang cukup deras, meninggalkan Indonesia. Sehingga indeks dan rupiah kemungkinan kembali mengalami pelemahan,” terangnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis bahwa rupiah akan terbang ke level Rp15.000 terhadap dolar AS. 
“Kita akan dorong rupiah menuju ke arah Rp15.000. Kalau kata Pak Presiden, Purbaya senyum, maka ekonomi aman. Nih sekarang senyum terus nih,” ujar Purbaya sambil tersenyum kepada wartawan usai acara Jogja Financial Festival di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Hal itu seiring dengan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di mana eksportir wajib menempatkan 100 persen dolar AS miliknya di bank pelat merah atau Himbara (Himpunan Bank Milik Negara). Beleid DHE SDA ini diberlakukan mulai 1 Juni 2026. Diharapkan, kebijakan tersebut bakal mendorong penguatan rupiah dalam waktu cepat.

Selain itu, Purbaya menyebut pemerintah dan bank sentral sudah menyiapkan sejumlah langkah agar rupiah tidak ‘loyo’ terus. Salah satunya adalah intervensi di pasar obligasi.

“Kita beli obligasi di pasar sekunder. Kalau kita lihat dampaknya, harusnya signifikan juga. Investor asing sudah masuk ke pasar sekunder, kita sudah masuk ke pasar primer,” jelas dia.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang