Pengamat Gadget Semprot Xiaomi Indonesia: Produk Kompetitif, tapi Layanan Bikin Kapok

Pengulas gadget sekaligus konsultan ponsel, Herry Setiadi Wibowo atau yang lebih dikenal sebagai Herry SW, melontarkan kritik keras terhadap layanan purnajual Xiaomi Indonesia

Melalui unggahan di media sosial, ia bahkan mengajak konsumen menunda membeli produk Xiaomi, Redmi, maupun POCO dengan menggunakan tagar #JanganXiaomi.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Herry SW selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pengulas yang kerap merekomendasikan produk Xiaomi berkat kombinasi spesifikasi tinggi dan harga yang kompetitif.

Namun kini, menurutnya, persoalan layanan purnajual menjadi alasan utama berubahnya sikap tersebut.

“Saya menyarankan konsumen tidak membeli produk Xiaomi, REDMI, maupun POCO. Layanan purnajual yang memburuk menjadi pemicu,” tulis Herry SW dalam unggahannya.

Klaim Garansi Berujung Masalah Baru

Dalam unggahan yang sama, Herry SW membagikan kronologi pengalaman seorang pengguna Xiaomi 15 yang disebut mengalami serangkaian persoalan setelah mengajukan klaim garansi resmi.

Menurut unggahan tersebut, pengguna awalnya mendatangi pusat layanan resmi Xiaomi pada 26 Juni 2026 karena baterai ponselnya mengembung. Perbaikan disebut selesai pada 1 Juli 2026.

Namun sehari setelah perangkat diterima, pengguna mengaku menemukan fitur Near Field Communication (NFC) tidak lagi berfungsi, padahal sebelumnya berjalan normal.

Perangkat kemudian kembali dibawa ke pusat layanan resmi pada 3 Juli 2026. Berdasarkan dokumen layanan yang ditampilkan, perbaikan dinyatakan selesai pada 7 Juli 2026 dan fungsi NFC kembali normal.

Akan tetapi, menurut Herry SW, setelah ponsel diterima, pengguna menemukan persoalan baru berupa bercak, debu, hingga garis menyerupai rambut pada area kamera belakang.

Dalam unggahan lanjutan disebutkan bahwa perangkat kembali diserahkan ke pusat layanan resmi pada 10 Juli 2026 untuk penanganan lebih lanjut.

Menurut narasi yang disampaikan Herry SW, hingga unggahan tersebut dibuat, persoalan pada kamera belum terselesaikan. Ia juga menyebut konsumen telah menghubungi layanan pelanggan Xiaomi, tetapi jawaban yang diterima dinilai hanya mengacu pada prosedur standar perusahaan.

Kritik terhadap Layanan Purnajual

Herry SW menilai persoalan tersebut bukan kasus yang berdiri sendiri.

Ia mengaku dalam beberapa waktu terakhir semakin sering menerima laporan dari pengguna mengenai pengalaman negatif saat mengajukan garansi maupun melakukan perbaikan di pusat layanan resmi Xiaomi.

Menurutnya, kualitas layanan purnajual memiliki peran yang sama pentingnya dengan kualitas produk.

“Percuma produknya bagus dan harganya kompetitif kalau layanan purnajualnya berantakan,” tulisnya.

Meski menyampaikan kritik keras, Herry SW berharap kondisi tersebut dapat berubah di bawah kepemimpinan baru Xiaomi Indonesia.

Ia menyinggung penunjukan Country Director baru Xiaomi Indonesia yang sebelumnya pernah memimpin operasional Xiaomi di Ukraina, Kolombia, dan Italia.

Menurut Herry SW, pengalaman di pasar Eropa yang memiliki standar pelayanan lebih ketat diharapkan dapat membawa perbaikan terhadap kualitas layanan purnajual Xiaomi di Indonesia.

Ia juga menegaskan bahwa tagar #JanganXiaomi yang digunakannya bukan bersifat permanen.

“Jika kelak layanan pusat perbaikan resmi Xiaomi membaik, tagar #JanganXiaomi tentu takkan saya sematkan lagi,” tulisnya.

Hingga artikel ini ditulis, Xiaomi Indonesia belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik yang disampaikan Herry SW maupun kronologi kasus yang diunggah tersebut.