Pasar Modal RI Guncang! Bos OJK dan BEI Mundur Massal, IHSG Masih Menghitung Hari

Ikhsan Medium.jpeg

Minggu, 1 Februari 2026 – 00:30 WIB

Seorang pria berjalan di atas layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)

Seorang pria berjalan di atas layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lantai bursa Tanah Air sedang tidak baik-baik saja. Setelah dihantam badai koreksi tajam akibat rebalancing indeks MSCI, pasar modal Indonesia kini menghadapi ketidakpastian baru: eksodus massal para petingginya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan bergerak ‘dingin’ dan penuh kehati-hatian dalam beberapa hari ke depan. Investor, menurutnya, kini dalam posisi wait and see tingkat tinggi.

“Dalam jangka sangat pendek, pasar masih akan bergerak hati-hati dan volatil, terutama di sektor keuangan dan saham-saham blue chip berkapitalisasi besar,” ujar Rizal di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Eksodus Petinggi: Tanggung Jawab Moral atau Sinyal Bahaya?

Dunia finansial dikejutkan dengan pengunduran diri serentak sejumlah punggawa utama pasar modal pada Jumat (30/1/2026). Nama-nama besar seperti Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Dirut BEI Iman Rachman, hingga Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi resmi menanggalkan jabatan mereka.

Tak berhenti di situ, Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara dan Deputi Komisioner I.B. Aditya Jayaantara juga turut mundur. 

Langkah drastis ini disebut-sebut sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kejatuhan IHSG yang sempat ‘terjun bebas’ dari level 8.980 ke 8.232 hanya dalam waktu dua hari setelah pengumuman MSCI.

Menanti Sosok Pengganti yang Kredibel

Rizal menilai, kunci ketenangan pasar saat ini terletak pada seberapa cepat pemerintah memunculkan figur pengganti yang mampu mengembalikan kepercayaan investor. Transisi kepemimpinan yang berlarut-larut hanya akan memperpanjang napas volatilitas di bursa.

“Jika sinyal penggantian yang kredibel muncul cepat dan tepat, tekanan bisa mereda dan IHSG kembali mengikuti faktor fundamental. Namun, tanpa kejelasan, volatilitas berisiko bertahan lebih lama,” tegas Rizal.

Meskipun pada penutupan Jumat IHSG sedikit bernapas lega dengan menguat ke posisi 8.329, namun sentimen negatif akibat perombakan struktur pengawas dan pengelola bursa ini diperkirakan masih akan membayangi perdagangan pekan depan. 

Publik kini menunggu, siapa nakhoda baru yang sanggup menstabilkan kapal pasar modal Indonesia di tengah hantaman sentimen global.