No War, No Peace: Timur Tengah dan Rapuhnya Tatanan Global

dr wajid fauzi.jpg

Rabu, 20 Mei 2026 – 00:11 WIB

Ilustrasi perang Amerika Serikat dan Iran. (Foto: Inilah.com/AI)

Ilustrasi perang Amerika Serikat dan Iran. (Foto: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ada satu situasi yang semakin terasa nyata dalam politik internasional hari ini, yakni dunia tidak sedang berada dalam perang besar, tetapi juga tidak benar-benar hidup dalam perdamaian. Ketegangan berlangsung terus-menerus, ancaman saling dipertukarkan, mobilisasi militer berjalan, namun deklarasi perang tidak pernah secara resmi diumumkan. Dunia seperti bergerak dalam ruang abu-abu, di antara perang dan damai. Tidak ada kawasan yang menggambarkan situasi itu lebih jelas dibandingkan Timur Tengah.

Hubungan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan bagaimana geopolitik modern semakin bergerak dalam pola no war, no peace. Konflik tidak lagi selalu hadir dalam bentuk invasi besar-besaran seperti masa lalu, tetapi melalui tekanan ekonomi, operasi intelijen, perang siber, serangan terbatas, pembentukan aliansi strategis, dan perang narasi yang berlangsung tanpa henti.

Situasi seperti ini menciptakan ketidakpastian global yang berkepanjangan. Dunia mungkin berhasil menghindari perang besar untuk sementara waktu, tetapi gagal membangun fondasi perdamaian yang stabil. Dalam perspektif hubungan internasional, fenomena ini sesungguhnya mencerminkan krisis yang lebih mendasar, yaitu krisis tata kelola global.

Pemikir realis klasik Hans Morgenthau sejak lama mengingatkan bahwa politik internasional pada dasarnya digerakkan oleh kepentingan nasional dan perebutan kekuasaan. Negara bertindak untuk mempertahankan eksistensi dan pengaruhnya, bukan semata-mata karena pertimbangan moral universal. Dalam kerangka itu, konflik menjadi sesuatu yang inheren dalam sistem internasional.

Apa yang terjadi di Timur Tengah hari ini menunjukkan bagaimana logika tersebut bekerja secara nyata. Amerika Serikat berusaha mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan. Israel memandang penguatan Iran sebagai ancaman eksistensial. Iran melihat tekanan Barat sebagai bentuk pembatasan terhadap kedaulatan dan ruang pengaruh regionalnya. Negara-negara Arab sendiri berada dalam posisi yang kompleks, menjaga stabilitas domestik sekaligus menghadapi tekanan geopolitik global.

Akibatnya, setiap aktor merasa sedang bertindak defensif untuk melindungi kepentingannya. Namun pada saat yang sama, tindakan defensif tersebut justru dipersepsikan pihak lain sebagai ancaman ofensif. Di sinilah relevansi pemikiran John Mearsheimer menjadi sangat terasa. Dalam teori offensive realism, Mearsheimer menjelaskan bahwa dalam sistem internasional yang anarkis, negara tidak pernah dapat sepenuhnya mempercayai niat negara lain. Karena itu, negara cenderung terus memperkuat kapasitasnya untuk menjamin keamanan sendiri.

Security Dilemma

Logika ini menciptakan apa yang dikenal sebagai security dilemma, yaitu upaya satu negara meningkatkan keamanan justru membuat negara lain merasa terancam, sehingga semua pihak terdorong meningkatkan kekuatan masing-masing. Akibat akhirnya bukan stabilitas, melainkan spiral ketidakpercayaan yang terus membesar.

Kita dapat melihat pola ini secara jelas di Timur Tengah hari ini. Iran memperkuat kapasitas strategisnya karena merasa dikepung. Israel meningkatkan kemampuan pertahanannya karena merasa terancam. Amerika memperkuat aliansi regional untuk menjaga keseimbangan kekuatan. Semua berbicara atas nama keamanan. Namun hasil akhirnya justru adalah ketidakamanan kolektif.

Akan tetapi, jika dunia hanya dipahami melalui logika persaingan kekuatan, maka harapan terhadap perdamaian akan selalu terbatas. Karena itu, pemikiran Robert Keohane menawarkan perspektif lain yang penting. Melalui pendekatan neoliberal institutionalism, Keohane menjelaskan bahwa sekalipun sistem internasional bersifat anarkis, negara tetap memiliki peluang membangun kerja sama melalui institusi internasional, diplomasi multilateral, dan mekanisme saling ketergantungan.

Krisis Legitimasi dan Efektivitas

Masalahnya, institusi global hari ini justru sedang menghadapi krisis legitimasi dan efektivitas. Perserikatan Bangsa-Bangsa sering kali tampak tidak cukup kuat menghadapi konflik geopolitik besar. Hukum internasional berjalan tidak konsisten. Standar moral global sering dipersepsikan berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lain. Dalam banyak kasus, dunia terlihat lebih cepat bereaksi terhadap kepentingan kekuatan besar dibanding terhadap penderitaan masyarakat sipil.

Akibatnya, muncul persepsi bahwa tata kelola global berjalan tidak sepenuhnya adil. Dan ketika rasa keadilan global melemah, kepercayaan terhadap sistem internasional juga ikut menurun. Inilah sesungguhnya krisis terbesar dunia hari ini, bukan hanya konflik antarnegara, tetapi melemahnya kepercayaan bahwa sistem global mampu menjadi ruang yang adil bagi semua pihak.

Dalam konteks itu, Timur Tengah bukan sekadar konflik regional. Timur Tengah adalah cermin dari transisi global yang lebih besar, yaitu berupa pergeseran keseimbangan kekuatan dunia, melemahnya dominasi tunggal, munculnya aktor-aktor baru, dan meningkatnya kompetisi geopolitik yang semakin sulit dikendalikan.

Dampak Bagi Indonesia

Situasi ini tentu memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Selama ini masih ada kecenderungan melihat konflik Timur Tengah sebagai sesuatu yang jauh secara geografis. Padahal dalam dunia yang saling terhubung, dampaknya dapat langsung terasa terhadap ekonomi, politik, sosial, bahkan keamanan nasional.

Dari sisi ekonomi, ketegangan di Timur Tengah dapat memengaruhi harga energi, stabilitas perdagangan global, inflasi, serta ketahanan pangan nasional. Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz dapat berdampak pada distribusi energi dunia, sementara gejolak harga minyak akan langsung memengaruhi APBN dan daya beli masyarakat.

Dalam konteks ini, patut diakui bahwa pemerintah Indonesia selama ini berupaya menjaga keseimbangan yang tidak mudah antara stabilitas fiskal dan stabilitas sosial, khususnya dalam pengelolaan harga BBM. Kebijakan subsidi dan pengendalian harga energi, meskipun sering menjadi perdebatan, pada dasarnya merupakan bagian dari upaya mencegah gejolak ekonomi global berubah menjadi tekanan sosial yang lebih besar di dalam negeri.

Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan menjaga stabilitas harga energi bukan semata persoalan ekonomi, tetapi juga bagian dari menjaga ketahanan sosial dan stabilitas nasional. Karena pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kenaikan harga energi yang tidak terkendali sering kali menjadi pemicu keresahan publik, tekanan politik, bahkan instabilitas sosial.

Tantangan ke Depan

Namun tantangan ke depan tentu tidak cukup diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek. Indonesia tetap perlu memperkuat ketahanan energi nasional, diversifikasi sumber energi, serta mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal

Dari sisi politik dan sosial, konflik global juga dapat memengaruhi polarisasi domestik. Narasi Timur Tengah sangat mudah masuk ke ruang publik Indonesia karena memiliki dimensi emosional, ideologis, dan keagamaan. Dalam situasi tertentu, hal ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat politik identitas dan memperlemah kohesi sosial.

Sementara dari sisi keamanan, ketidakstabilan global selalu membuka ruang bagi berkembangnya ekstremisme, disinformasi, dan penetrasi pengaruh asing melalui ruang digital maupun jaringan transnasional. Karena itu, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh.

Kesadaran inilah yang perlu dibangun di kalangan pejabat negara, politisi, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas. Indonesia membutuhkan elite politik yang mampu membaca perubahan geopolitik dunia secara matang, bukan sekadar bereaksi terhadap dinamika jangka pendek. Indonesia juga membutuhkan generasi muda yang memahami bahwa stabilitas nasional tidak dapat dipisahkan dari dinamika global.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi dan organisasi mahasiswa memiliki peran penting untuk memperkuat literasi geopolitik masyarakat. Sementara media dan komunitas intelektual perlu memastikan bahwa ruang publik diisi oleh diskusi yang rasional, berimbang, dan berbasis kepentingan nasional.

Karena di tengah dunia yang semakin penuh ketidakpastian, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimilikinya, tetapi oleh kemampuannya membaca perubahan dan menjaga kohesi internalnya. Pada akhirnya, situasi no war, no peace di Timur Tengah mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu dunia modern mungkin semakin maju dalam teknologi dan persenjataan, tetapi belum tentu semakin matang dalam membangun tata kelola global yang adil.

Jika dunia gagal memperbaiki ketimpangan dalam sistem internasionalnya, maka konflik mungkin tidak selalu meledak menjadi perang besar, tetapi akan terus hidup dalam bentuk ketegangan yang berkepanjangan. Dalam dunia seperti itu, negara-negara seperti Indonesia tidak memiliki pilihan selain memperkuat ketahanan nasionalnya sendiri, secara politik, ekonomi, sosial, dan moral, agar tidak mudah terseret oleh turbulensi global yang semakin sulit diprediksi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang