Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kepastian mengenai perpanjangan program diskon tarif listrik untuk tahun anggaran 2026 masih menjadi tanda tanya. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah belum memutuskan apakah stimulus tersebut akan dilanjutkan atau dihentikan.
Purbaya mengaku, hingga saat ini pihaknya masih mempertimbangkan urgensi pemberian diskon tersebut, bergantung pada kondisi ekonomi nasional mendatang.
“Sampai sekarang belum ada usulan, nanti kita lihat seperti apa masukannya,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Menurut Purbaya, indikator utama kebijakan ini adalah laju pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi Indonesia dinilai sudah pulih dan bergerak cepat (rebound), maka intervensi pemerintah melalui stimulus subsidi listrik tidak lagi diperlukan.
Ia pun meminta dukungan masyarakat agar kinerja pemerintah dalam mengelola ekonomi berjalan optimal, sehingga daya beli masyarakat bisa tumbuh secara alami tanpa ketergantungan pada bantuan sosial.
“Jadi kalau ekonominya sudah ‘lari’, memang tidak usah (ada diskon). Nanti Anda doakan saja saya kerjanya benar, sehingga ekonominya bagus,” tegasnya.
Flashback Stimulus 2025
Sebagai pembanding, pada periode Januari-Februari 2025, pemerintah menggelontorkan paket stimulus berupa diskon tarif listrik hingga 50 persen. Langkah ini diambil demi menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi awal tahun.
Berdasarkan data PT PLN (Persero), stimulus tersebut menyasar segmen pelanggan rumah tangga dengan daya 2.200 Volt Ampere (VA) ke bawah.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mencatat bahwa jangkauan diskon tersebut sangat luas, mencakup 81,4 juta pelanggan rumah tangga dari total 84 juta pelanggan PLN.
Berikut rincian penerima diskon listrik pada awal 2025:
- 450 VA: 24,6 juta pelanggan.
- 900 VA: 38 juta pelanggan.
- 1.300 VA: 14,1 juta pelanggan.
- 2.200 VA: 4,6 juta pelanggan.
Kini, nasib 81,4 juta pelanggan tersebut untuk tahun 2026 sepenuhnya bergantung pada evaluasi tim ekonomi pemerintah dalam waktu dekat.














