Buah kelapa sawit yang telah dipanen diperlihatkan sebelum diolah menjadi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). (Foto: ANTARA/HO-Kementan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebut minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi penopang utama kinerja ekspor pertanian nasional. Sekaligus sumber devisa penting bagi perekonomian Indonesia.
“Peningkatan ekspor CPO turut memperkuat kinerja ekspor pertanian nasional secara keseluruhan,” kata Mentan Amran di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Pernyataan itu disampaikan menyusul penegasan Presiden Prabowo Subianto yang meminta Indonesia mengambil kendali lebih besar atas komoditas strategis nasional, terutama kelapa sawit.
Menurut Presiden Prabowo, Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia tidak seharusnya terus berada pada posisi mengikuti penentuan harga yang dikendalikan negara lain.
Penegasan tersebut disampaikan Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI terkait penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
“Saudara-saudara sekalian, kita produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tapi harga kelapa sawit ditentukan di negara lain. Saya mengatakan kepada menteri-menteri saya, ini tidak boleh terjadi,” ujar Prabowo.
Presiden menilai Indonesia perlu memperkuat posisi tawar terhadap komoditas strategis nasional, tidak hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai penentu nilai di pasar global.
Menurut Mentan Amran, sawit memiliki peran besar dalam menopang ekonomi nasional karena menjadi sumber penghidupan jutaan petani, pekerja, hingga pelaku usaha di berbagai daerah.
Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak sawit terbesar dunia. Pada 2025, devisa ekspor sawit mencapai 23 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp391 triliun.
Kontribusi tersebut menjadikan sawit sebagai salah satu komoditas utama penopang pertumbuhan ekonomi, perdagangan, serta penguatan neraca ekspor nasional.
Dari sisi produksi, industri sawit domestik juga terus menunjukkan pertumbuhan. Total produksi sawit nasional saat ini mencapai sekitar 56 juta ton, sedangkan ekspor berbagai produk olahan sawit menembus 32 juta ton.
“Angka tersebut menunjukkan dominasi Indonesia dalam rantai pasok global minyak sawit sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain utama dunia,” ujar Mentan Amran.
Senada dengan Presiden dan Mentan, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menilai momentum saat ini menjadi titik penting untuk memperkuat kedaulatan Indonesia atas komoditas strategis nasional.
“Bertahun-tahun negara lain mendikte harga hasil bumi Nusantara. Kita memproduksi kelapa sawit terbanyak, kok harganya ikut aturan luar,” katanya.
Sudaryono mengatakan pemerintah ingin mendorong perubahan tata kelola komoditas nasional agar harga berbagai sumber daya strategis dapat lebih banyak ditentukan di dalam negeri.
“Sekarang saatnya berubah. Kabinet Merah Putih mendapat titah. Harga nikel, sawit, batu bara, karet hingga emas wajib ditentukan di dalam negeri,” ujar Sudaryono.
Ia menambahkan, apabila pasar luar negeri tidak menerima harga yang ditetapkan Indonesia, maka pemerintah perlu memperkuat pemanfaatan domestik dan menjaga cadangan sumber daya alam untuk jangka panjang. “Kita tuan rumah di tanah sendiri, saatnya tentukan aturan main,” kata Sudaryono.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













