Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik pedas terhadap jajaran pemimpin negara Eropa. Kritik ini menyusul rentetan klaim keliru yang terus digulirkan Benua Biru mengenai program nuklir Iran.
Melansir laporan Press TV pada Minggu (3/5/2026), Araghchi mengungkapkan kegeramannya dalam percakapan langsung dengan Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani. Ia secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas sikap negara-negara Eropa yang dianggap tidak konstruktif.
Kebijakan Eropa tidak Bertanggung Jawab
Dalam pembicaraan tersebut, Araghchi menilai kebijakan yang diambil negara-negara Eropa terkait isu nuklir Iran saat ini sangat tidak bertanggung jawab. Ia menyebut narasi yang dibangun Eropa terhadap negaranya tidak berdasar dan hanya memperkeruh suasana.
Lebih lanjut, diplomasi tertinggi Iran itu kembali menegaskan posisi negaranya di hadapan dunia internasional. Ia menjamin bahwa seluruh aktivitas nuklir yang dilakukan Iran saat ini sepenuhnya bersifat damai dan tidak ditujukan untuk militer.
Desak Eropa Kutuk Agresi AS dan Israel
Tak hanya soal nuklir, Araghchi juga menuntut keberanian negara-negara Eropa untuk bersikap adil. Ia mendesak para pemimpin Eropa segera mengutuk tindakan agresi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurutnya, dunia internasional tidak boleh tutup mata terhadap pelanggaran serius hukum internasional yang diduga dilakukan oleh kedua negara tersebut. Araghchi meminta adanya pertanggungjawaban nyata atas aksi agresi yang mengancam stabilitas kawasan.
Doktrin Keamanan dan Fatwa Spiritual
Senada dengan Araghchi, Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, sebelumnya juga telah memberikan penegasan serupa. Dalam pernyataannya kepada RIA Novosti pada Maret lalu, Jalali menekankan bahwa Iran tidak memiliki niat untuk mengembangkan senjata pemusnah massal.
Penegasan tersebut didasarkan pada doktrin keamanan nasional dan fatwa dari pemimpin spiritual tertinggi Iran. Secara prinsip, Iran telah berulang kali menyatakan di berbagai forum internasional bahwa program nuklir mereka murni untuk tujuan damai dan kebutuhan energi nasional.
Kini, bola panas berada di tangan para pemimpin Eropa. Publik menanti apakah mereka akan merespons desakan Iran atau tetap bertahan dengan kebijakan yang oleh Teheran disebut sebagai klaim keliru.









