Lembaga Asing Mulai Akui Kokohnya Fundamental Ekonomi RI, Purbaya Beberkan Buktinya

Clara Medium.jpeg

Selasa, 14 Juli 2026 – 10:45 WIB

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung DPR RI, Jakarta. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung DPR RI, Jakarta. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pelan tapi pasti, lembaga pemeringkat atau rating asing mulai mengakui kuatnya fundamental perekonomian Indonesia. Perkembangan ini jelas kabar baik, khususnya bagi pelaku pasar saham di Tanah Air. Siap-siap dana asing masuk deras ke Indonesia.

Tak main-main, Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang, dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, keputusan S&P ini, merupakan pengakuan atas konsistensi pemerintah Indonesia, dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus melanjutkan agenda reformasi struktural.

Purbaya menyebut, afirmasi peringkat ini menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun masih menghadapi tekanan global akibat tingginya suku bunga global, volatilitas pasar keuangan, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi harga energi dan komoditas.

“Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia di level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel,” ujar Purbaya, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Pemerintah, lanjut Purbaya, akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja. “Serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Asal tahu saja, S&P menilai, Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, didukung kebijakan makroekonomi yang prudent, stabilitas politik dan kelembagaan, serta beban utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat yang setara.

Lembaga pemeringkat tersebut, memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5 persen dalam 2-3 tahun ke depan. Untuk tahun ini, diproyeksikan sekitar 5,1 persen. Sejalan dengan capaian pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2026 sebesar 5,6 persen. Sedangkan pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan melonjak hingga US$5.200, pada tahun ini.

Selain itu, S&P memberikan penilaian positif terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga defisit APBN, tetap berada di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sesuai amanat peraturan perundang-undangan. Komitmen tersebut dipandang sebagai policy anchor yang memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia.

Dalam paruh pertama 2026, S&P mencatat, terjadi kenaikan penerimaan negara sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini didukung penguatan administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak, khususnya dari sektor sumber daya alam.

Ke depan, kata Purbaya, pemerintah akan terus memperkuat kualitas APBN melalui penguatan penerimaan perpajakan dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), peningkatan kepatuhan dan digitalisasi administrasi perpajakan, optimalisasi penerimaan dari sektor mineral dan sumber daya alam, peningkatan efektivitas serta ketepatan sasaran belanja negara serta pengelolaan pembiayaan yang efisien dan pengendalian risiko utang.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang