Ketika Hujan Jadi Lapangan Kerja Dadakan di Depan MRT Blok M

Reyhaanah Medium.jpeg

Minggu, 18 Januari 2026 – 20:03 WIB

Para penyedia jasa ojek payung menjemput rezeki di depan pintu stasiun MRT Blok M, Jakarta Selatan. (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Para penyedia jasa ojek payung menjemput rezeki di depan pintu stasiun MRT Blok M, Jakarta Selatan. (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Hujan tak menunggu siapa pun sore itu di Blok M, Jakarta Selatan. Awan gelap menggulung, lalu mengguyur kawasan Stasiun MRT Blok M BCA tanpa aba-aba, Minggu (18/1/2026). Penumpang yang baru muncul dari perut stasiun tersebar panik. Ada yang buru-buru membuka payung, ada yang nekat berlari, ada pula yang berhenti di ambang pintu sambil menimbang mau ke mana dulu.

Di sela kepanikan ringan itu, muncul pemandangan yang tak asing bagi warga kota. Payung-payung besar terbuka, digenggam anak-anak muda dan warga sekitar yang menawarkan jasa mengantar penumpang menyeberangi jalan basah menuju halte atau taman. Ojek payung, pekerjaan musiman yang muncul setiap kali cuaca berubah muram.

Tidak ada tarif tempel di tiang. Tidak ada negosiasi panjang. Payung mengembang, dua orang berjalan berdampingan, dan di titik tujuan, satu-dua lembar uang berpindah tangan. Berapa jumlahnya? Terserah hati dan kondisi dompet.

Sebagian pengguna MRT mengaku terbantu, apalagi ketika hujan turun seperti ditumpahkan dari ember.

“Kalau hujannya deres banget, ya kepakai. Saya biasanya kasih Rp5.000 atau Rp10.000. Tapi ini kan hujannya nggak tentu ya, jadi mending nunggu saja lah toh nggak jauh ini dari stasiun mau ke Blok M Hub,” ujar Kiki (28).

Ayu (25), pelajar asal Bekasi, mengaku punya pengalaman yang berlapis—antara butuh dan sungkan.

“Kalau nggak ngejar waktu sih ya nggak usah pake ojek payung ya. Tapi ini buru-buru, cuma sebentar aja kasih aja deh uang seadanya,” katanya. Ia menambahkan pernah merasa tak enak menolak meski jaraknya masih sanggup ditempuh.

Fenomena ini memang bergerak di ruang abu-abu kota. Di satu sisi, menunjukkan naluri warga memanfaatkan peluang ekonomi mikro tanpa modal. Di sisi lain, berdirinya para penyedia jasa di pintu keluar kadang menimbulkan rasa ‘dipaksa halus’ bagi mereka yang lebih ingin mandiri atau sekadar menunggu hujan reda.

Hingga kini, tidak ada aturan yang mengikat aktivitas ojek payung di sekitar stasiun MRT. Yang penting bagi pengelola: penumpang tidak terganggu, akses keluar-masuk tak tersumbat. Sementara bagi para pelakunya, semua mengalir apa adanya.

“Ya kita mah iseng aja namanya cari rezeki. Nggak masalah orang mau kasih berapa, yang penting bisa beli rokok. Kalau ada yang mau pake kita ya kita antar, enggak mah ya udah balik atau nongkrong lagi aja,” celetuk Rahmat (20), sambil mengayunkan payung besarnya.

Saat hujan kembali tipis, payung-payung itu lipat satu per satu. Jejeran jas hujan dicopot, trotoar mengering, dan pintu keluar stasiun kembali normal seolah tak pernah terjadi apa pun.

Namun di Jakarta, setiap awan kelabu bisa berarti pendapatan dadakan. Dan selama langit terhadap Blok M masih berwarna abu, ojek payung akan selalu siap muncul dari balik tiang, menjadi catatan kecil ekonomi instan di tengah kota yang bergerak tanpa jeda.