Banjir besar kembali merendam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Air turun laksana tamu lama yang tidak pernah diundang. Tanah bergerak perlahan hingga membentuk longsor. Angin membawa pesan yang terasa seperti pengingat.
Manusia berdiri di tengah itu dengan langkah ragu. Data BMKG menunjukkan hujan ekstrem di Sumatra dipicu peningkatan suhu laut yang memperkuat pembentukan awan tebal di Samudra Hindia (BMKG, 2025).
Peta kerentanan lingkungan juga menyebut kawasan barat Sumatra berada dalam tekanan akibat deforestasi serta kerusakan daerah aliran sungai yang terus meningkat (KLHK, 2025). Alam memberi tanda; hanya manusia yang belum sepenuhnya siap.
Warganet menulis bahwa bencana datang tiba-tiba. Padahal alam sudah berbisik sejak lama. Daun yang rontok di luar musim adalah pertanda yang sering diabaikan. Sungai yang berubah warna menunjukkan tanah di hulu mulai tergerus.
Para peneliti mencatat perubahan itu terkait pembukaan lahan yang tidak terkontrol dan meningkatnya erosi tanah di banyak titik di Sumatra (Firmansyah, 2021). Udara yang terasa menahan napas juga menjadi bagian dari pola cuaca ekstrem. Laporan BMKG menunjukkan peningkatan hari dengan curah hujan sangat tinggi dalam satu dekade terakhir di wilayah Sumatra bagian barat (BMKG, 2025). Semua tanda itu muncul jauh sebelum kamera televisi menyorot banjir dan longsor.
Kita melihat wajah warga yang basah oleh air dan cemas di layar berita. Mereka kehilangan rumah.
Mereka kehilangan rasa aman. Jalan raya yang terputus oleh lumpur menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak bisa ditunda. PUPR mencatat banyak ruas jalan provinsi di Sumatra berada dekat tebing rawan longsor yang sudah dipetakan dalam laporan risiko bencana tahunan (PUPR, 2022).
Setiap wajah yang muncul di televisi membawa pesan yang jelas: alam meminta manusia kembali mendengar. Setiap genangan air adalah catatan yang menunggu untuk dipahami.
Petaka Anthropocene
Michael Barnes Norton dalam Anthropocene Religion: Rethinking Nature, Humanity and Divinity Amid Climate Catastrophe (Edinburgh University Press, 2025) menulis bahwa zaman Anthropocene bukan masa ketika manusia berkuasa.
Norton meneroka bahwa Anthropocene justru menyingkirkan manusia dari pusat panggung karena bumi mulai menunjukkan ketidakstabilan yang tidak dapat dikendalikan (hlm. 161). Pandangan itu terasa akrab saat menyaksikan Sumatra dihantam bencana bertubi-tubi.
Selama ini kita percaya bahwa semua bisa diatur. Kita membuat zonasi. Kita menetapkan wilayah rawan bencana. Kita menyusun prosedur darurat.
Namun bukit-bukit di Sumatra tidak membaca peta. Mereka hanya mengikuti hukum alam yang sederhana. Air mencari celah. Batu mencari titik lemah. Hutan yang hilang membuat tanah kehilangan pegangan.
Dalam kerangka Norton, manusia berjalan di atas panggung yang rapuh. Setiap kebijakan yang mengabaikan ekosistem adalah langkah yang memicu retakan baru. Retakan itu akhirnya membelah tanah. Lalu tanah menggulung jalan desa.
Alam Menolak
Norton menjelaskan bahwa batas antara alam dan budaya sudah lama runtuh. Alam tidak pernah berdiri sendirian. Alam selalu menjadi bagian dari tindakan manusia karena hubungan manusia dengan lingkungan bersifat saling berkelindan (hlm. 27). Bencana Sumatra menguatkan pandangan itu.
Pohon yang ditebang di hulu akan mempersulit warga di hilir. Jalan tambang yang dibuka menambah beban sungai saat hujan. Keputusan perusahaan memperluas konsesi menciptakan ruang kosong yang tidak mampu menahan air. Alam selalu merespons tindakan manusia dengan caranya sendiri. Respons itu tidak mengenal kompromi.
Kita sering menyebut bencana sebagai sesuatu yang terjadi pada kita. Padahal kita ikut menciptakan kondisi yang mengarah ke sana. Sungai yang dulu jernih berubah menjadi saluran yang tersumbat sampah. Lembah yang dulu hijau berubah menjadi jalan tanah yang menunggu waktu untuk runtuh.
Solidaritas Fana
Masa depan membutuhkan solidaritas untuk menghadapi perubahan iklim. Solidaritas harus melibatkan empati dan kesediaan untuk bekerja sama. Gagasan ini terasa kuat saat melihat warga Sumatra berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Solidaritas publik sering muncul cepat. Sumbangan datang dalam hitungan jam. Relawan tiba membawa makanan dan pakaian. Namun solidaritas itu sering meredup setelah berita terbaru menggeser perhatian kita. Bencana berikutnya datang sebelum kita menyelesaikan pembelajaran dari bencana sebelumnya.
Kita hidup dalam ritme empati yang terburu-buru. Kita merasa sudah membantu karena mengirimkan foto donasi. Padahal warga yang kehilangan rumah membutuhkan lebih dari itu. Mereka membutuhkan kebijakan yang tegas, tata ruang yang berpihak pada keselamatan, dan jaminan bahwa pola yang sama tidak akan berulang.
Agama dan Doa
Agama memiliki peran penting membangun empati lingkungan. Agama dapat membantu manusia memahami hubungan mereka dengan alam. Doa selalu hadir setiap kali bencana terjadi. Kita berdoa agar hujan berhenti. Kita berdoa agar sungai tidak meluap. Namun doa tidak dapat mengembalikan hutan yang hilang. Doa juga tidak dapat mengeringkan tambang yang melubangi bukit.
Doa adalah kekuatan moral. Ia memulihkan ketenangan. Tetapi ia tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan yang bertanggung jawab. Ajaran menjaga bumi seharusnya diterjemahkan ke dalam pengawasan yang lebih kuat. Ajaran kasih sayang perlu diwujudkan dalam perlindungan terhadap kelompok paling rentan.
Pelajaran dari Sumatra
Bencana di tiga provinsi Sumatra bukan hanya ujian bagi warga setempat. Mereka adalah cermin bagi seluruh Indonesia.
Cermin itu memperlihatkan bahwa kita membangun kota tanpa memperhitungkan sungai. Kita menata jalan tanpa memikirkan aliran air. Kita membuka lahan tanpa memikirkan akar pohon yang memegang tanah.
Norton mengingatkan bahwa alam adalah jaringan yang rapuh. Ia bergerak dengan logika yang tidak bisa diubah seenaknya. Jika manusia bersikeras berdiri di luar jaringan itu, manusia sendiri yang akan menjadi korban.
Pelajaran terbesar dari Sumatra adalah bahwa kita tidak hidup terpisah dari alam. Kita adalah bagian dari sistem yang terus bergerak. Jika kita merusak satu bagian, seluruh sistem memberi balasan.
Bencana Sumatra adalah peringatan yang tidak boleh diabaikan. Setiap longsor adalah kalimat yang ditulis bumi. Setiap banjir adalah paragraf yang mengingatkan kita untuk memperbaiki tata ruang. Setiap rumah yang hanyut adalah tanda bahwa kita perlu memahami kembali hubungan dengan alam.
Norton menawarkan pandangan bahwa masa depan hanya bisa dibangun melalui empati dan solidaritas. Pandangan itu tampak sederhana. Namun kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya. Empati adalah cara hidup. Solidaritas adalah cara berpikir.
Kita mungkin tidak bisa menghentikan semua bencana di masa depan. Tetapi kita dapat mengurangi dampaknya jika bersedia memahami alam sebagai teman setara. Teman yang dapat marah. Teman yang memberikan tanda sebelum mengambil keputusan terakhir.
Pada akhirnya bumi hanya menagih apa yang pernah kita ambil. Kita meminjam dari alam tanpa membayar. Kini alam menagih kembali. Kita hanya perlu memutuskan apakah akan membayar dengan perubahan, atau dengan bencana berikutnya.













