Apple membuka angka yang selama ini jadi pertanyaan banyak orang. Pada Selasa (1/9/2026), bertepatan dengan hari pertama John Ternus menjabat sebagai CEO, perusahaan menyerahkan dokumen ke Securities and Exchange Commission (SEC) yang memuat rincian paket kompensasi bos barunya.
Totalnya mencapai USD58 juta per tahun untuk tahun fiskal 2027. Dengan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia di kisaran Rp17.727 per dolar AS, angka itu setara sekitar Rp1,02 triliun. Dibagi 365 hari, hasilnya sekitar Rp2,8 miliar per hari.
Tapi angka besar itu perlu dibaca dengan hati-hati, karena sebagian besar isinya bukan uang yang langsung masuk rekening.
Cuma 5 Persen yang Benar-Benar Gaji
Dari total USD58 juta, komponen gaji pokok tunai hanya USD3 juta per tahun atau sekitar Rp53,2 miliar. Kalau dibagi 12 bulan, Ternus menerima sekitar Rp4,4 miliar per bulan sebagai gaji murni. Besar, tapi porsinya hanya sekitar lima persen dari total paket yang diberitakan.
Sisanya, USD55 juta atau sekitar Rp975 miliar, datang dalam bentuk penghargaan saham dengan nilai target untuk tahun fiskal 2027. Istilah “nilai target” ini penting. Artinya, angka tersebut adalah patokan, bukan jaminan.
Untuk tahun fiskal 2026 yang berakhir September ini, Ternus juga menerima restricted stock unit (RSU) satu kali secara prorata dengan nilai target USD2,5 juta atau sekitar Rp44,3 miliar, sebagai kompensasi atas masa baktinya di kursi CEO tahun ini.
Tiga Perempat Bayarannya Bergantung pada Kinerja Saham
Inilah bagian yang jarang dibaca orang. Sebanyak 75 persen dari penghargaan saham Ternus berbentuk performance-based. Pencairannya ditentukan oleh total keuntungan pemegang saham Apple dibandingkan perusahaan-perusahaan lain dalam indeks S&P 500.
Kalau Apple berkinerja buruk relatif terhadap pesaingnya di bursa, bagian ini bisa cair jauh di bawah nilai target. Sebaliknya, jika Apple mengungguli pasar, nilainya bisa melampaui angka yang tertulis di dokumen.
Sisanya, 25 persen, berbentuk saham berbasis waktu yang cair bertahap setiap enam bulan sebesar 12,5 persen selama empat tahun. Bagian ini relatif aman selama Ternus tetap bekerja di Apple, dan fungsinya jelas: mengikat CEO baru untuk tidak ke mana-mana dalam waktu dekat.
Struktur semacam ini bukan hal baru di Apple. Skema yang sama dipakai selama era Tim Cook, dan menjadi alasan mengapa kompensasi CEO Apple selalu terlihat fluktuatif dari tahun ke tahun.
Naik Berapa dari Posisi Lamanya?
Sebelum menjadi CEO, Ternus menjabat Senior Vice President of Hardware Engineering. Apple tidak pernah mengungkap besaran kompensasinya di posisi itu, karena hanya eksekutif tertentu yang wajib dilaporkan ke SEC.
Bloomberg memperkirakan eksekutif Apple di level tersebut umumnya menerima sekitar USD25 juta per tahun, mencakup gaji, saham, dan bonus. Jika perkiraan itu mendekati kenyataan, promosi ke kursi CEO membuat bayaran Ternus naik lebih dari dua kali lipat.
Pria berusia 51 tahun ini resmi memimpin Apple sejak 1 September 2026.
Tim Cook Turun Jabatan, Bayarannya Tetap Rp833 Miliar
Tim Cook tidak keluar dari Apple. Ia berpindah ke kursi Executive Chairman, dan Apple juga mengungkap kompensasinya di peran baru itu.
Cook akan menerima gaji tahunan USD2 juta atau sekitar Rp35,5 miliar, ditambah penghargaan saham dengan nilai target USD45 juta atau sekitar Rp798 miliar untuk tahun fiskal 2027. Totalnya sekitar USD47 juta atau Rp833 miliar.
Komposisinya sedikit berbeda dari Ternus: setengah berbasis kinerja, setengah lagi berbasis waktu yang cair bertahap selama empat tahun. Ada satu klausul menarik, yakni jika Cook pensiun pada atau setelah satu tahun sejak tanggal pemberian saham, bonus sahamnya tetap cair.
Sebagai perbandingan, pada tahun fiskal 2025 Cook menerima total kompensasi USD74,3 juta atau sekitar Rp1,3 triliun. Rinciannya terdiri atas gaji pokok USD3 juta, penghargaan tunai berbasis kinerja USD12 juta, dan penghargaan saham USD57,5 juta.
Artinya, jika target tercapai penuh, Ternus sebagai CEO baru akan dibayar lebih rendah dari Cook di tahun terakhirnya memimpin. Ini pola yang lazim dalam suksesi korporasi: CEO baru jarang langsung disamakan dengan pendahulu yang sudah 15 tahun membangun rekam jejak.
Kenapa Angka di Berbagai Media Berbeda?
Pembaca mungkin menemukan angka rupiah yang tidak seragam di berbagai pemberitaan, mulai dari Rp890 miliar sampai Rp1,03 triliun untuk nilai yang sama, yakni USD58 juta.
Perbedaannya bukan pada dolarnya, melainkan pada kurs yang dipakai. Nilai tukar rupiah pada awal September 2026 berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Angka yang jauh lebih rendah biasanya muncul dari konversi memakai kurs lama.
Satu hal yang pasti: berapa pun kursnya, sebagian besar bayaran Ternus baru akan diketahui nilai riilnya bertahun-tahun ke depan, setelah kinerja Apple di bawah kepemimpinannya benar-benar terukur.












