Kegelisahan Orang Tua tentang Pendidikan

Dalam banyak percakapan keluarga hari ini, pendidikan anak hampir selalu menjadi tema utama. Pertanyaan yang paling sering muncul pun sederhana, tetapi penuh kecemasan: pendidikan seperti apa yang mampu menjamin masa depan anak?

Kegelisahan itu wajar. Mendidik anak di era sekarang membutuhkan biaya besar, sementara akses terhadap pekerjaan yang layak justru semakin sulit. Banyak orang tua menyaksikan kenyataan pahit bahwa pendidikan tinggi tidak lagi otomatis menghadirkan kesejahteraan. Anak-anak muda yang telah menyelesaikan pendidikan formal tetap menghadapi transisi kerja yang rumit, tidak linear, dan penuh ketidakpastian.

Kualifikasi akademik sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan pasar kerja. Di sisi lain, dunia kerja berubah sangat cepat akibat digitalisasi dan transformasi ekonomi global. Situasi ini melahirkan kecemasan kolektif, terutama bagi keluarga kelas menengah yang menjadikan pendidikan sebagai jalan utama mobilitas sosial.

Guy Standing bahkan menyebut kondisi ini sebagai pandemic of status frustration, yakni situasi ketika pendidikan diperlakukan sebagai investasi ekonomi, tetapi gagal memberikan imbal balik yang diharapkan. Banyak lulusan perguruan tinggi akhirnya mengalami kekecewaan karena kesulitan memasuki pasar kerja atau bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Masalah Pendidikan Tidak Sesederhana Memilih Jurusan

Perdebatan tentang pendidikan sering terjebak pada pertanyaan teknis seperti jurusan apa yang paling menjanjikan atau sekolah mana yang paling unggul. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks. Masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh pilihan akademik, tetapi juga oleh faktor struktural seperti kondisi ekonomi keluarga, kualitas lingkungan, akses pendidikan, hingga peluang kerja yang tersedia.

Dalam konteks ini, negara memegang peran sangat penting. Jika pendidikan benar-benar diyakini sebagai powerful intervention untuk memperbaiki masa depan bangsa, maka perhatian pemerintah tidak bisa berhenti pada kurikulum atau pembangunan sekolah semata. Pendidikan harus dihubungkan dengan aspek kesejahteraan lain seperti kesehatan, gizi, perumahan, hingga ketenagakerjaan.

Sebab, pendidikan yang baik sulit tumbuh di tengah keluarga yang hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan.

Keterampilan yang Dibutuhkan di Era Baru

Pengalaman banyak anak muda menunjukkan bahwa dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik formal. Seorang kerabat penulis, misalnya, mengakui bahwa pelajaran spesifik yang dipelajari di kampus tidak banyak digunakan dalam pekerjaannya. Namun, satu keterampilan yang membuatnya bertahan adalah kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi.

Fenomena ini sejalan dengan berbagai riset internasional. World Bank dan OECD menekankan pentingnya keterampilan lintas bidang seperti literasi, numerasi, pemecahan masalah, kerja sama tim, kepemimpinan, ketahanan mental (grit), hingga kemampuan digital.

Namun, menginternalisasikan keterampilan tersebut tidak semudah menyusun kurikulum. Banyak rekomendasi global lahir dari konteks negara maju yang memiliki dukungan pendidikan dan ekonomi jauh lebih kuat. Di Indonesia, tantangannya jauh lebih kompleks karena masih adanya ketimpangan akses pendidikan dan dukungan sosial.

Karena itu, membangun keterampilan masa depan tidak cukup hanya melalui jargon transformasi pendidikan. Dibutuhkan keberpihakan nyata terhadap kelompok yang selama ini berada di pinggir sistem pendidikan.

Peran Orang Tua dan Pentingnya Dukungan Struktural

Dalam diskursus pengasuhan modern, perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang anak menjadi faktor penting. David Epstein dalam bukunya Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World menjelaskan bahwa tidak semua anak harus diarahkan menjadi spesialis sejak dini. Sebagian justru berkembang lebih baik ketika diberi ruang mencoba banyak hal sebelum menemukan bidang yang benar-benar sesuai.

Sementara itu, Angela Duckworth melalui konsep grit menekankan pentingnya kombinasi antara kegigihan dan passion jangka panjang. Menurutnya, pengasuhan yang berpusat pada kebutuhan anak (child-centered parenting) menjadi fondasi utama dalam membangun daya tahan menghadapi masa depan.

Namun, pendekatan seperti ini membutuhkan dukungan yang tidak sedikit. Orang tua perlu memiliki waktu, kapasitas, dan stabilitas ekonomi untuk mendampingi anak secara optimal. Persoalannya, tidak semua keluarga memiliki kondisi tersebut. Banyak keluarga di Indonesia masih dibayangi persoalan ekonomi, pekerjaan yang tidak stabil, hingga keterbatasan akses pendidikan yang berkualitas.

Di titik inilah dukungan negara menjadi sangat penting.

Pendidikan Tidak Bisa Dilepaskan dari Kesejahteraan

Sejak lama, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa keluarga merupakan pusat pendidikan pertama bagi anak. Namun, keluarga yang kuat tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan dukungan sosial dan ekonomi yang memadai.

Karena itu, menjawab kegelisahan orang tua tentang pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki sekolah. Negara harus hadir menjaga keluarga, mempersempit disparitas pendidikan, dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.

Tantangan pendidikan Indonesia sebagai negara kepulauan tentu berbeda dengan negara maju. Karena itu, strategi pendidikan tidak bisa sekadar menyalin model luar negeri tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan geografis Indonesia.

Pada akhirnya, kegelisahan orang tua tentang pendidikan sesungguhnya bukan hanya tentang sekolah atau pekerjaan. Ia adalah kegelisahan tentang masa depan, tentang apakah anak-anak mereka kelak benar-benar memiliki kesempatan hidup yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.