Pelatih Maurizio Sarri dari SS Lazio bereaksi selama pertandingan leg kedua semifinal Coppa Italia antara Atalanta BC dan SS Lazio di New Balance Arena pada 22 April 2026 di Bergamo, Italia. (Foto: Marco Mantovani/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelatih Lazio, Maurizio Sarri, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap performa heroik penjaga gawang Edoardo Motta yang sukses membawa I Biancocelesti lolos ke Final Coppa Italia. Di saat yang bersamaan, Sarri juga menyampaikan harapannya agar para suporter setia Lazio bersedia menangguhkan aksi boikot mereka saat partai puncak digelar nanti.
Tiket ke final sukses diamankan Lazio usai menyingkirkan Atalanta lewat drama adu penalti 2-1 di New Balance Arena, Rabu (22/4) malam waktu setempat, setelah bermain imbang 1-1 (agregat 3-3) hingga babak perpanjangan waktu.
Bintang utama di balik kelolosan tersebut adalah Edoardo Motta. Kiper berusia 21 tahun itu sukses menepis empat tendangan penalti pemain Atalanta secara beruntun. Penjaga gawang yang didatangkan pada bulan Januari sebagai pelapis ini secara terpaksa harus menjadi pilihan utama menyusul cedera parah yang mengakhiri musim Ivan Provedel.
“Dia luar biasa dalam menghadapi penalti, dia menyelamatkan empat dari lima (tendangan) dalam adu penalti, ditambah satu di Serie A melawan Bologna, jadi itu lima dari enam penalti dalam seragam Lazio,” puji Sarri sambil tersenyum, seperti dikutip dari Sport Mediaset.
“Motta memiliki ruang untuk berkembang, terutama saat memainkan bola dengan kakinya, tetapi ia memiliki prospek yang penting. Ia harus memiliki keinginan dalam benaknya untuk terus berkembang,” tambah mantan pelatih Juventus dan Chelsea tersebut.
Pencapaian Krusial di Tengah Musim Sulit
Bagi Sarri, keberhasilan menembus final merupakan sebuah pencapaian luar biasa di tengah musim yang penuh tantangan. Kelolosan ke final yang akan digelar pada 13 Mei mendatang melawan Inter Milan ini tidak hanya menyelamatkan wajah klub, tetapi juga menjamin tiket ke ajang Final Four Supercoppa Italiana dan membuka peluang lolos langsung ke Liga Europa musim depan.
“Pertandingan malam ini sangat rumit, laga sistem gugur melawan tim kuat di stadion yang sulit untuk ditaklukkan oleh sebagian besar tim Eropa. Ini telah menjadi perjalanan yang hebat bagi kami, kami menyingkirkan finalis musim lalu Milan dan Bologna, lalu malam ini lawan yang luar biasa seperti Atalanta,” jelas Sarri.
Pelatih berusia 67 tahun itu juga secara terbuka mengakui kelemahan timnya. “Kami memiliki masalah sepanjang musim, yaitu kami kesulitan mencetak gol. Tim ini telah menjadi solid dan tangguh untuk dilawan, tetapi kami tidak mudah memasukkan bola ke gawang.”
Harapan untuk Ultras Lazio dan ‘Jimat Keberuntungan’
Laga Final Coppa Italia melawan Inter Milan dipastikan akan terasa spesial karena akan dihelat di Stadion Olimpico, Roma, yang notabene adalah markas Lazio. Namun, dukungan penuh suporter masih menjadi tanda tanya besar.
Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok suporter garis keras (Ultras) Lazio melakukan boikot untuk tidak hadir di laga kandang sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Klub, Claudio Lotito. Sarri pun berharap mereka sudi datang ke Olimpico khusus untuk laga final ini.
“Saya selalu mengatakan bahwa saya menghormati keputusan orang-orang, jadi jika penggemar kami membuat pilihan ini, saya menghormatinya. Namun, jika mereka hadir, saya dan tim akan sangat gembira. Kemarin, mereka datang ke bandara untuk menyemangati kami, jadi jika mereka datang (ke final), saya akan menjadi pelatih paling bahagia di dunia,” ungkap Sarri penuh harap.
Menariknya, seusai kemenangan adu penalti yang menegangkan di Bergamo, Sarri tampak mencari seseorang di tribun penonton.
“Seorang teman saya ada di tribun, seseorang yang secara historis membawa keberuntungan. Dia sudah memberi tahu saya sejak kemarin bahwa kami akan lolos, jadi saya mencarinya,” pungkas Sarri.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












