Ilustrasi bunuh diri. (Foto: Shutterstock)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Psikolog Anak, Gloria Siagian menyebut bila kasus bunuh diri yang dilakukan anak terus meningkat sepanjang tahun. Menurutnya, publik biasanya sering mengaitkan kondisi ini dengan lemahnya mental anak alias mental tempe.
“Kasus anak bunuh diri terus meningkat sepanjang tahun, tapi kondisi ini terus disangkut-pautkan dengan label ‘generasi strawberry’, generasi yang lembek, enggak sekuat generasi dulu,” ujar Gloria kepada inilah.com, Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Padahal, masih menurutnya, tantangan yang dihadapi anak sekarang jauh lebih banyak dari zaman dulu. Tak hanya itu, Gloria menilai hal yang membuat anak-anak menjadi “terlihat lembek” justru dari sikap orang dewasa di sekitarnya.
“Bagaimana anak-anak hanya di jejali belajar dan belajar, waktu sekolah makin panjang, tuntutan sekolah dengan kurikulum yg berubah-ubah, ketidakjelasan ekonomi. Anak hanya korban dari yg terjadi di dunia orang dewasa. Dan mereka pun melakukan cara penyelesaian masalah yang paling mereka tahu,” tegasnya.
Tak hanya itu, adanya eksposure berita, tanpa ada diskusi, sering membangun POV yang tidak sehat juga ditengarai menjadi penyebab.
“Peran pemerintah? Hadir. Bikin kebijakan bukan cuma cakep di kertas, tapi sampai ke bawah. Bahas topik-topik well being, empati, relasi di sekolah. Tempatkan Psikolog atau guru BK di sekolah negeri,” paparnya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan fakta Indonesia menempati urutan tertinggi kasus bunuh diri anak di kawasan Asia Tenggara.
KPAI menilai kondisi ini telah memasuki tahap darurat dan membutuhkan penanganan luar biasa dari seluruh elemen bangsa, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini memaparkan, berdasarkan data KPAI terjadi tren kenaikan kasus dari tahun ke tahun. Pada 2023 tercatat 46 kasus, kemudian 43 kasus pada 2024, dan 2025 tercatat 26 kasus.
Tak hanya itu, kekhawatiran kembali muncul setelah terdapat tiga laporan kasus serupa pada awal 2026, termasuk kasus siswa yang bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu.
“Ini tidak bisa kita normalisasi, secara garis besar Indonesia berada pada kondisi yang darurat anak mengakhiri hidup,” ujar Diyah dikutip Jumat (13/2/2026).
Dia menegaskan, setiap kasus harus menjadi alarm serius bagi semua pihak. Menurutnya, kasus di NTT tersebut memiliki kemiripan dengan kasus di Kebumen, Jawa Tengah pada 2023.
Saat itu, seorang anak diduga mengakhiri hidup setelah tidak mendapatkan uang jajan.
Menurut data KPAI, faktor terbesar yang mendorong anak mengakhiri hidup adalah perundungan (bullying), diikuti oleh pola pengasuhan, tekanan ekonomi, pengaruh game online, dan persoalan asmara.
“Kasus semacam ini terjadi hampir setiap tahun dan bahkan telah menyasar anak usia sekolah dasar, sehingga perhatian serius terhadap kesehatan mental anak menjadi tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial,” paparnya.














