WHO meminta negara-negara agar melarang rokok dan vape di lingkungan sekolah demi melindungi generasi muda. [foto: shutterstock]
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dokter sekaligus edukator kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Muhammad Fajri Adda’i mengatakan permasalahan dalam penggunaan rokok elektrik atau vape memang cukup kompleks.
“Tahun 2018, 2019 (vape) hype di Amerika. Saya sudah baca publikasinya, sempat terjadi pneumotoraks KLB ratusan jumlahnya,” jelas Fajri kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, dikutip Sabtu (18/4/2026).
“Trennya meningkat di Amerika ternyata banyak paru-paru yang bolong, paru bocor sehingga parunya jadi kempes, itu terbesar paling banyak. Akhirnya di Australia, Amerika dan beberapa negara maju dibuat peraturan ‘hati-hati penggunaan vape’, banyak edukasi ke masyarakat terutama anak muda,” tuturnya.
Ia menyebut vape seringkali diidentikkan dengan gaya hidup para remaja yang gaul, sehingga tak heran bila kelompok ini menjadi sasaran empuk, tanpa memperhatikan berbagai bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam rokok elektrik tersebut.
“Di dalam vape sendiri bahan-bahan kimianya memang banyak bahan yang sudah jelas berbahaya, misalnya di situ kan ada bahan-bahan yang memicu ketagihan, nikotin juga, kemudian ada masalah pembakaran juga, karsogenik, memicu risiko sakit jantung, stroke pada kemudian hari yang bisa menyebabkan produk-produk yang membuat pelemahan dinding paru sehingga gampang bocor karena dia meradang, dan meningkatkan risiko pada asma,” jelas Fajri.
Selain itu, kini vape juga makin banyak penyalahgunaan dengan menambah cairan etomidate, yakni sebuah obat yang tujuan sebenarnya adalah untuk anestesi bukan digunakan dalam vape.
“Makanya di Singapura sudah mulai dilarang, di Indonesia nih sudah mulai dilarang,” tegas Fajri.
Sementara itu, perihal dampak terhadap industri vape menurutnya, para produsen memang harus memikirkan produk alternatif.
“Ya mungkin industrinya harus switching product, namanya juga berbahaya ya dia harus cari lagi alternatif lain, karena susah, di lapangan itu banyak penyalahgunaan. Saya juga baca paper bahwa dari dulu sudah lama bertahun-tahun yang lalu memang digunakan marijuana cairannya, sintetik, ada juga yang begitu,” katanya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












