Penampakan spanduk pemberitahuan parkir gratis di salah satu minimarket, kawasan Jakarta Timur. (Foto: Inilah.com/Vonita).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Plang “PARKIR GRATIS” terpasang mantap di depan minimarket Jakarta Timur. Huruf kapitalnya tegas, background cerah, seperti janji manis yang ingin dipercaya. Tapi bagi warga yang sudah khatam, tulisan itu cuma aksesori ibarat diskon kembar padahal harga aslinya dinaikkan duluan.
Begitu pintu geser minimarket terbuka-tutup, Pluit menggema, tangan melambai, rompi menyala diterjang sinar lampu jalan. Para juru parkir liar berjaga seperti kru band metal yang tak pernah istirahat. Satu kendaraan pergi, satu receh berpindah.Tak peduli papan kuning bertulis “GRATIS” di tembok, pungutan tetap berjalan mulus.
Untuk pengendara motor, uang Rp2.000 mirip tiket lewat ketimbang kewajiban moral. Beli air mineral Rp5.000, keluar bayar parkir Rp2.000. Pengguna mobil kadang keluarkan lebih, hanya karena mobil dianggap dompet berjalan.
“Menurut saya bukan masalah nominalnya. Masalah tukang parkir ini jadi beban moral sendiri, jadi mau enggak mau dikasih biar pulang enggak diresein,” kata Deni, pekerja kantoran langganan singgah di minimarket.
Ia heran kenapa papan gratis begitu lantang, tapi praktik pungut tetap jalan.
“Agak janggal, soalnya ini ruang swasta yang pengelolanya sudah bilang parkirnya gratis. Tapi ya sudah cuma tulisan saja, enggak ada kelanjutannya karena tukang (parkir) ini masih subur,” lanjutnya.
Yang menarik, para juru parkir tahu betul posisi mereka. Pluit dan rompi jadi identitas yang membuat orang merasa wajib bayar, meski teknisnya tak pernah ada mandat. Buat sebagian warga, parkir liar sudah seperti pajak kota tak tertulis.
Mau ribut? Buang waktu.
Mau Menolak? Dapat tatapan pedas.
Mau cuek? Ujung-ujungnya jadi bahan obrolan setelah kita pergi.
Tati, ibu rumah tangga, bahkan rela belanja yang tak perlu demi punya uang receh, hanya untuk bisa keluar dengan aman.
“Saya mau ambil uang di ATM yang ada di minimarket terpaksa jajan buat tukar uang receh untuk dikasih ke tukang parkir. Padahal saya enggak butuh-butuh banget dan berujung uangnya cepat meluap karena sudah recehan,” ujarnya
Semua ini menelanjangi kenyataan pahit: ruang publik paling sederhana pun bisa berubah jadi lahan ekonomi tanpa aturan. Pemilik minimarket bungkam karena ini wilayah abu-abu. Pemerintah sering baru bergerak kalau sudah viral. Dan juru parkir tetap hadir karena, jujur saja sekalipun receh tetap saja uang.
Sesekali razia datang mengusir, tapi pagi berikutnya pluit terdengar lagi. Parkir liar bukan soal uang kecil, tapi cermin bahwa hukum di kota ini sering berhenti di papan, bukan di tindakan. Tulisan “PARKIR GRATIS” lebih sekadar gimmick visual, gratis itu cuma kata, bukan kenyataan.














