Jangan Nekat, Ini Komponen Mobil Listrik yang Pasti Rusak Jika Kena Banjir

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 28 Januari 2026 – 04:25 WIB

Kendaraan listrik melintasi jalan yang tergenang air di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (22/1/2026). (Foto: Antara)

Kendaraan listrik melintasi jalan yang tergenang air di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (22/1/2026). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Musim hujan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia kerap memicu kepercayaan diri berlebih bagi pemilik kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Berbekal sertifikasi kedap air IP67 atau IP68 pada baterai, banyak pengguna merasa aman menerjang genangan tinggi.

Namun, Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memberikan peringatan keras. Menurutnya, sertifikasi tersebut bukanlah jaminan mobil listrik bisa diperlakukan layaknya kendaraan amfibi. Menerobos banjir justru berpotensi menjadi “bom waktu” bagi kerusakan komponen vital non-baterai.

“IP67 itu jaminan darurat, bukan jaminan kendaraan bisa digunakan semaunya untuk menerobos banjir,” tegas Yannes saat dihubungi di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Musuh Utama: Sensor dan Kelistrikan 12 Volt

Yannes menjelaskan, persepsi umum bahwa risiko utama ada pada baterai tegangan tinggi adalah kurang tepat. Baterai utama (battery pack) memang dilindungi secara ekstrem. Risiko terbesar justru mengintai pada sistem kelistrikan rendah (12 volt) dan ratusan sensor canggih yang menjadi “otak” kendaraan.

Komponen krusial seperti Electronic Control Unit (ECU), modul ABS, hingga sensor parkir tersebar di berbagai titik rendah kendaraan. Berbeda dengan baterai, komponen-komponen ini umumnya tidak memiliki pelindung setangguh IP67.

“Air banjir yang keruh atau air rob yang mengandung garam dapat memicu korosi secara perlahan. Gejalanya bisa baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian,” papar Yannes.

Dampak jangka panjangnya bisa sangat fatal, mulai dari sensor yang error, fitur keselamatan aktif (ADAS) yang mendadak mati, hingga munculnya alarm palsu pada panel instrumen.

Biaya Perbaikan Selangit

Jika korosi sudah menyerang modul elektronik, Yannes mengingatkan bahwa solusinya hampir pasti adalah penggantian komponen, bukan perbaikan. Hal ini diperparah dengan biaya suku cadang EV yang masih tergolong mahal dan ketersediaan stok yang terbatas.

Masalah tidak berhenti di situ. Penggantian modul sensor radar atau kamera membutuhkan kalibrasi ulang yang presisi.

“Jika kalibrasi tidak presisi, fitur seperti pengereman darurat atau lane keep assist justru bisa menjadi berbahaya,” ujarnya.

Risiko Baterai Tetap Ada

Meski baterai dilindungi Battery Management System (BMS) yang akan memutus arus saat terdeteksi kebocoran, Yannes tetap mewanti-wanti potensi kerusakan fatal. Jika mobil terendam terlalu lama atau terkena tekanan air ekstrem, rembesan kecil bisa terjadi dan memicu korosi internal.

Risiko terburuknya adalah thermal runaway (kebakaran baterai) atau kegagalan sistem total.

“Biaya penggantian battery pack bahkan bisa mencapai 40–50 persen dari harga mobil baru. Risiko kerusakan tersembunyi dan biaya perbaikannya jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan sesaat saat nekat menerobos banjir,” tutup Yannes.