Isu Stok BBM 20 Hari Picu Panic Buying, DPR Minta Pemerintah Perjelas Komunikasi ke Publik

Clara Medium.jpeg

Jumat, 13 Maret 2026 – 04:34 WIB

Perang AS-Israel vs Iran memicu lonjakan harga BBM di 85 negara, termasuk AS sendiri. (Foto: AFP/Frederic J. Brown)

Perang AS-Israel vs Iran memicu lonjakan harga BBM di 85 negara, termasuk AS sendiri. (Foto: AFP/Frederic J. Brown)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Komisi VI DPR RI, Nevi Zuairina, menyoroti pernyataan pemerintah terkait ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang berada pada kisaran 20 hari. Hal ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat karena memunculkan kesalahpahaman yang berujung pada aksi panic buying di sejumlah daerah.

Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan bahwa komunikasi publik yang tidak utuh dapat memicu kekhawatiran berlebihan.

“Ketika masyarakat mendengar bahwa stok BBM hanya tersedia untuk sekitar tiga minggu, sebagian orang langsung menganggap akan terjadi kelangkaan. Padahal yang dimaksud adalah kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan nasional, bukan berarti pasokan BBM akan habis dalam waktu tersebut,” ujar Nevi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Dia menjelaskan bahwa fenomena panic buying biasanya dipicu oleh beberapa faktor, antara lain ketidakpastian informasi, psikologi massa, serta kekhawatiran terhadap situasi geopolitik global. Ia menilai bahwa eskalasi konflik internasional juga kerap memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

“Sering kali rasa takut masyarakat lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Ketika sebagian orang mulai menimbun BBM, masyarakat lain ikut melakukan hal yang sama. Inilah yang kemudian memicu antrean panjang di SPBU dan mengganggu distribusi,” jelasnya.

Nevi menyebut panic buying justru dapat menciptakan kelangkaan buatan atau artificial scarcity. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu sistem distribusi energi nasional dan bahkan mendorong kenaikan harga di tingkat masyarakat.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat komunikasi publik yang cepat, terbuka, dan berbasis data. Selain itu, stabilitas distribusi dari kilang ke depo hingga ke SPBU harus dijaga agar pasokan tetap lancar di seluruh wilayah.

“Pengawasan terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM juga harus diperketat, terutama dalam situasi yang rentan memicu spekulasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Nevi menilai momentum ini harus menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat cadangan energi nasional. Saat ini cadangan BBM Indonesia masih jauh di bawah banyak negara lain, seperti Jepang yang memiliki cadangan hingga sekitar 254 hari, Amerika Serikat sekitar 90–120 hari, serta Uni Eropa dan China yang rata-rata memiliki cadangan minimal 90 hari.

“Penguatan cadangan energi strategis harus menjadi agenda jangka panjang. Peningkatan kapasitas tangki penyimpanan serta pembangunan cadangan energi nasional merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan,” ungkapnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang