Israel Ogah Bayar Iuran AS tak Berkutik, Yakin BoP Bawa Perdamaian ke Palestina?

Diana Medium.jpeg

Jumat, 27 Februari 2026 – 17:41 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri Inaugural Meeting Board of Peace yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri Inaugural Meeting Board of Peace yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Harapan publik dunia pada Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza tampaknya bakal bertepuk sebelah tangan. Bukannya jadi solusi, lembaga ini justru terlihat melempem setelah Israel terang-terangan menolak membayar iuran.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menilai pembangkangan ini adalah tamparan keras bagi kredibilitas BoP.

Dina menganggap manuver Israel yang ogah urunan dan direstui Amerika Serikat, menjadi bukti nyata bahwa lembaga ini tak punya taji untuk membela Palestina.

“Menurut saya, keputusan Israel menolak membayar iuran untuk Dewan Perdamaian Gaza yang disetujui oleh Amerika Serikat justru menunjukkan bahwa BoP ini lembaga yang tidak bermanfaat buat Palestina,” kata Dina kepada Inilah.com, Jumat (27/2/2026).

Sikap keras kepala Tel Aviv ini sekaligus menelanjangi posisi Washington. AS yang selama ini sok jago jadi mediator perdamaian, di mata Dina, justru terlihat kerdil dan disetir oleh sekutu dekatnya itu.

“Penolakan Israel menujukkan bahwa posisi AS inferior di hadapan Israel, AS tidak berdaya mengatur-ngatur Israel. Hal ini semakin menunjukkan bahwa AS sama sekali tidak punya kelayakan untuk jadi juru damai,” ujarnya.

Dina juga merasa ironis melihat negara-negara anggota BoP yang sudah jor-joran berkomitmen namun justru tak dihargai Israel. Ia mengingatkan ada pertaruhan besar di sini, termasuk rencana pengiriman ribuan nyawa tentara.

“Penolakan Israel ini mempermalukan negara-negara anggota BoP. Atau, seharusnya mereka malu. Mereka mengaku bergabung BoP untuk menciptakan perdamaian di Palestina, bahkan sebagian mau iuran Rp 17 T, Indonesia bahkan mau kirim 8000 tentara dengan biaya dan resiko keselamatan yg besar. Nah ini malah penjahatnya (Israel) berbuat semaunya,” tegas Dina.

Legitimasi BoP pun makin dipertanyakan lantaran banyak negara Eropa hingga Global South memilih jaga jarak. Dina mengendus aroma busuk bahwa tanpa konsensus internasional yang kuat, dewan ini cuma jadi alat stempel bagi ambisi dua pemimpin besar.

“Pada akhirnya, tanpa konsensus yang jelas dan tanpa legitimasi internasional yang kuat, Dewan Perdamaian berisiko menjadi instrumen politik Donald Trump & Benjamin Netanyahu semata untuk melegitimasi penguasaan penuh Gaza,” tuturnya.