Iran Bantah Ada Dialog dengan Amerika, Itu Cuma Akal-akalan Trump

Nebby Medium.jpeg

Selasa, 24 Maret 2026 – 01:38 WIB

Warga mengikuti aksi unjuk rasa menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran di Kota London, Inggris Raya, Sabtu (21/3/2026). (Foto: Antara Foto/XinHua/Li Ying/wsj).

Warga mengikuti aksi unjuk rasa menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran di Kota London, Inggris Raya, Sabtu (21/3/2026). (Foto: Antara Foto/XinHua/Li Ying/wsj).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Iran membantah telah melakukan pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat, bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim telah terjadi “percakapan produktif” antara kedua negara.

Kantor berita semi-resmi Mehr, mengutip sumber Iran, menyatakan bahwa “tidak ada dialog” antara Teheran dan Washington. Sumber itu menambahkan, komentar Trump merupakan bagian dari upayanya “untuk menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militer.”

Meski demikian, sumber Iran mengakui bahwa beberapa negara regional telah mengajukan inisiatif untuk meredakan ketegangan. “Kami bukanlah pihak yang memulai perang ini, dan semua tuntutan tersebut harus diarahkan ke Washington,” ujarnya.

Trump pada Senin (23/3/2026) mengatakan bahwa dia telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Langkah itu didasari oleh percakapan yang menurut Trump berlangsung “sangat baik dan produktif” selama dua hari terakhir dengan Teheran.

“Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.

Trump menambahkan, berdasarkan “nada dan isi percakapan mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu,” dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan AS untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari. Penundaan itu tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.

Ketegangan regional meningkat sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan ini menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang