Inilah Daftar Model Laptop Acer, Asus, dan Axioo yang Terseret Kasus Korupsi Proyek Nadiem

Kasus dugaan korupsi proyek pengadaan laptop di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah menjadi sorotan nasional. Dalam sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (16/12), terungkap adanya aliran dana triliunan rupiah yang melibatkan 12 vendor teknologi dan mantan Menteri Nadiem Makarim.

Namun, bagi pegiat teknologi dan gadget enthusiast, pertanyaan besarnya adalah: Seperti apa spesifikasi laptop yang diperebutkan hingga menyebabkan kerugian negara ini?

Berdasarkan penelusuran inilah.com spesifikasi teknis pengadaan tahun 2021-2022, laptop-laptop ini mayoritas adalah perangkat entry-level berbasis Chrome OS (Chromebook) dengan spesifikasi yang sangat mendasar, namun dibanderol dengan harga pengadaan yang diduga jauh di atas harga pasar ritel.

Spesifikasi “Seragam” Laptop Merah Putih

Proyek yang dikenal dengan program “Laptop Merah Putih” atau digitalisasi pendidikan ini memiliki standar spesifikasi minimum yang ditetapkan pemerintah saat itu. Sayangnya, spesifikasi ini dinilai “kentang” (lambat) untuk standar harga yang dibayarkan negara (kisaran Rp 6 juta – Rp 10 juta per unit dalam kontrak).

Berikut spesifikasi umum laptop yang menjadi objek kasus:

Prosesor: Intel Celeron N4020 atau N4120 (Dual-core, arsitektur Gemini Lake Refresh).

RAM: 4GB DDR4 (Seringkali soldered atau tidak bisa di-upgrade).

Penyimpanan: 32GB eMMC (Sangat kecil, mudah penuh oleh sistem).

Layar: 11.6 Inci HD (1366 x 768 piksel).

Sistem Operasi: Chrome OS (Membutuhkan lisensi Chrome Device Management/CDM).

Mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim (kedua kanan) menggunakan rompi tahanan berjalan keluar usai pemeriksaan di Jampidsus, Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (4/9/2025). (Foto: Antara/Bayu Pratama)

Daftar Model Laptop Vendor Global

Vendor global memasok barang ini melalui distributor lokal. Berikut model-model yang kerap muncul dalam katalog pengadaan tersebut:

Acer (PT Acer Indonesia)

Model: Acer Chromebook 311 (C733/C733U).

Fitur: Dikenal sebagai laptop rugged (tahan banting) standar militer MIL-STD 810G.

Kasus: Acer disebut menerima keuntungan terbesar dalam dakwaan, mencapai Rp 425 Miliar.

HP (PT Hewlett-Packard Indonesia)

Model: HP Chromebook 11 G8 EE / G9 EE (Education Edition).

Fitur: Desain tebal dengan karet pelindung sudut.

Dell (PT Dell Indonesia)

Model: Dell Chromebook 3100.

Fitur: Engsel yang bisa ditekuk 180 derajat, tahan tumpahan air.

Asus (PT Asus Technology Indonesia)

Model: ASUS Chromebook C214 / Flip C214MA.

Fitur: Beberapa varian memiliki layar sentuh dan bisa dilipat menjadi tablet (flip).

Lenovo (PT Lenovo Indonesia)

Model: Lenovo Chromebook 100e / 300e (2nd Gen).

Daftar Model Laptop Vendor Lokal (PDN)

Zyrex Chromebook M432 dan Chromebook 360.
 

Selain merek asing, vendor lokal juga mendapatkan porsi besar dengan alasan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN):

Axioo (PT Tera Data Indonesia)

Model: Axioo Chromebook, Axioo Chromebook 360.

Kasus: Menerima keuntungan sekitar Rp 177 Miliar.

Zyrex (PT Zyrexindo Mandiri Buana)

Model: Zyrex Chromebook M432 dan Chromebook 360.

Advan (PT Bangga Teknologi Indonesia)

Model: Advan Chromebook 116 / 360 Stylus.

Libera (PT Gyra Inti Jaya)

Model: Libera Merdeka Chromebook C120.

Kasus: Merek yang jarang terdengar di pasar ritel ini meraup untung Rp 101 Miliar.

Mark-up Harga vs Performa

Isu utama dalam kasus ini adalah dugaan mark-up harga.

Pada periode 2021-2022, laptop dengan spesifikasi Intel Celeron N4020, RAM 4GB, dan eMMC 32GB di pasar ritel (toko komputer umum/marketplace) dijual di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta.

Namun, dalam proyek pengadaan Kemendikbud, harga satuan perangkat ini melonjak drastis. Pemerintah berdalih harga tersebut sudah termasuk biaya distribusi ke pelosok, garansi purna jual, dan lisensi CDM (Chrome Device Management).

Meski demikian, selisih harga yang mencapai dua kali lipat lebih dari harga pasar inilah yang kini didakwa Jaksa sebagai keuntungan tidak wajar yang mengalir ke vendor dan pejabat terkait, termasuk mantan Menteri Nadiem Makarim.

Bagi dunia teknologi, kasus ini menjadi ironi: anggaran triliunan rupiah digelontorkan untuk perangkat dengan spesifikasi yang di tahun 2025 ini sudah dianggap usang (obsolete), sementara dana tersebut diduga bocor ke mana-mana.