Industri Otomotif Thailand di Persimpangan: Ancaman PHK di Tengah Gempuran EV

Sektor otomotif Thailand, yang selama ini dikenal sebagai ‘Detroit-nya Asia Tenggara’, kini sedang menghadapi ujian eksistensial. Pergeseran global menuju kendaraan listrik (EV) dan adopsi otomasi robotika yang kian masif mulai mengguncang fondasi industri yang menghidupi hampir satu juta tenaga kerja di Negeri Gajah Putih tersebut.

Di tengah ambisi tetap kompetitif secara global, muncul kekhawatiran besar: bagaimana nasib para pekerja yang selama ini menggantungkan hidup pada mesin pembakaran internal (ICE)?

Strategi Bertahan Lewat Dialog Industrial

Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union, Georg Leutert, menegaskan bahwa kunci menghadapi krisis ini adalah penerapan responsible business conduct (RBC) atau praktik bisnis yang bertanggung jawab. Menurutnya, RBC bukan sekadar mematuhi regulasi, melainkan membangun dialog jujur antara manajemen dan serikat pekerja.

“Intinya adalah menciptakan komunikasi berkelanjutan untuk mencari solusi bersama,” ujar Leutert dalam diskusi Future of Work yang digagas ILO, Sabtu (18/4/2026).

Senada dengan itu, Wakil Presiden AutoAlliance Thailand, Sathirayuth Sangsuwan, menyebut transparansi adalah modal utama. AutoAlliance, yang merupakan joint venture Ford dan Mazda, kini secara rutin membagikan target produksi tahunan sebanyak 150 ribu unit hingga rincian bulanan kepada seluruh karyawan. Langkah ini diharapkan mampu membangun kepercayaan di tengah ketidakpastian industri.

Belajar dari Kegagalan di Jerman dan AS

Transformasi ke era EV memang membawa konsekuensi pahit. Leutert mengungkapkan, di negara maju seperti Jerman dan Amerika Serikat, puluhan ribu pekerja otomotif telah kehilangan pekerjaan. Hal ini terjadi karena komponen kendaraan listrik jauh lebih sederhana dan membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit dibandingkan mobil konvensional.

Ia mengingatkan bahwa masalah ini tidak bisa selesai hanya dengan memberikan pesangon atau kompensasi finansial. 

“Pekerjaan yang hilang kemungkinan besar tidak akan kembali. Pekerja harus dipersiapkan untuk peluang di sektor lain melalui strategi jangka panjang seperti reskilling (pelatihan ulang) dan upskilling (peningkatan keterampilan),” tegas Leutert.

Robot Bukan Musuh, tapi Mitra?

Di sisi lain, penggunaan robot dan cobot (robot kolaboratif) sering dipandang sebagai ‘pencuri’ lapangan kerja. Namun, Sangsuwan memiliki perspektif berbeda. Di perusahaannya, otomasi justru diklaim sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas pekerja.

“Karyawan yang terdampak teknologi dialihkan ke posisi dengan tanggung jawab lebih tinggi. Perusahaan tetap membutuhkan pekerja berpengalaman untuk menghasilkan produk terbaik,” jelas Sangsuwan.

Rantai Pasok: Titik Lemah yang Harus Dibenahi

Tantangan terbesar justru ada pada ribuan pemasok kecil di rantai pasok bawah yang sering terhimpit tekanan biaya. Leutert menilai praktik bisnis bertanggung jawab harus merambah hingga ke level pemasok terkecil.

Upaya ini mulai dijalankan oleh AutoAlliance Thailand dengan menggandeng ILO untuk memberikan pelatihan bagi para pemasok. Meski awalnya sempat muncul penolakan, pendekatan kolaboratif ini perlahan mulai diterima sebagai jalan keluar untuk bertahan hidup di tengah badai transformasi.

Pada akhirnya, masa depan industri otomotif Thailand tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan baterai atau kecepatan robot di lini produksi, melainkan oleh seberapa manusiawi transisi tersebut dikelola agar tak ada pekerja yang tertinggal di belakang.