Ibu Negara Amerika Serikat (AS), Melania Trump, akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah pengumuman mengejutkan di Gedung Putih, Kamis (9/4/2026), Melania secara tegas membantah segala tudingan yang mengaitkan dirinya dengan mendiang predator seksual Jeffrey Epstein. Tak hanya membela diri, ia juga mendesak Kongres untuk segera menggelar sidang bagi para penyintas perdagangan seks Epstein.
“Klaim yang menghubungkan saya dengan dia (Epstein) harus berakhir hari ini,” tegas Melania di hadapan para jurnalis. Ia menyebut spekulasi yang beredar di jagat maya sebagai upaya jahat untuk merusak reputasinya.
Melania juga menepis rumor lama yang menyebut bahwa Epstein-lah yang memperkenalkan dirinya kepada Donald Trump. Ia menegaskan hanya pernah ‘berpapasan singkat’ dengan Epstein pada tahun 2000 dan tidak pernah terlibat dalam aktivitas apa pun di lingkaran tersebut.
Desak Transparansi untuk Penyintas
Langkah Melania kali ini terbilang berani. Ia menyerukan kepada para pembuat undang-undang agar memberikan kesempatan bagi para korban untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah.
“Setiap perempuan harus memiliki hari untuk menceritakan kisah mereka di depan publik jika mereka menginginkannya. Hanya dengan cara itulah kita akan mendapatkan kebenaran,” ujarnya.
Sikap Ibu Negara ini langsung disambut oleh pihak oposisi. Perwakilan Demokrat dari California, Robert Garcia, menyatakan dukungannya dan mendesak Ketua Komite Pengawasan DPR dari Partai Republik, James Comer, untuk segera menjadwalkan sidang tersebut.

Polemik Email dan Masa Lalu
Meski Melania bersikap ofensif, publik masih menyoroti rilis dokumen Epstein yang memuat korespondensi email tahun 2002 antara dirinya dan Ghislaine Maxwell—kaki tangan Epstein yang kini dipenjara. Dalam email tersebut, Melania mengirimkan salam hangat dan menyatakan ‘tidak sabar’ untuk pergi ke Palm Beach.
Melania berdalih bahwa pesan tersebut hanyalah ‘korespondensi santai’ dan balasan sopan belaka. Namun, bayang-bayang masa lalu sang suami juga sulit dilepaskan. Dalam artikel New York Magazine tahun 2002, Donald Trump pernah memuji Epstein sebagai ‘pria yang luar biasa’ dan menyebut bahwa Epstein menyukai wanita cantik, terkadang ‘di sisi yang lebih muda’.
Reaksi Beragam dari Para Korban
Intervensi mendadak dari Melania ini memicu reaksi campur aduk dari para penyintas. Lisa Phillips, salah satu penyintas, menyebut langkah ini ‘berani’ namun tetap menyimpan skeptisisme. Ia mempertanyakan apakah ini merupakan dukungan tulus atau sekadar “teater politik.”
Di sisi lain, keluarga penyintas Virginia Giuffre menilai desakan Melania agar korban bersaksi lagi adalah bentuk ‘pengalihan tanggung jawab’. Menurut mereka, para korban sudah menunjukkan keberanian luar biasa selama ini, sementara pemerintah dianggap masih menahan sejumlah dokumen investigasi penting terkait jaringan Epstein.
Langkah Hukum Tanpa Kompromi
Melania menegaskan dirinya tidak akan mundur menghadapi serangan fajar dari para penulis maupun media. Sebelumnya, ia berhasil memaksa beberapa penerbit besar dan media massa untuk mencabut laporan tidak terverifikasi mengenai hubungannya dengan Epstein. S
aat ini, ia bahkan tengah terlibat perseteruan hukum senilai US$1 miliar dengan penulis buku Fire and Fury, Michael Wolff.
Kemunculan Melania yang tergolong langka ini diprediksi akan kembali memanaskan perdebatan publik mengenai penanganan kasus Epstein oleh Departemen Kehakiman. Meski nama Donald Trump muncul berkali-kali dalam berkas Epstein, hingga kini tidak ada indikasi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sang Presiden.













