Suasana duka mendalam menyelimuti ibu kota Iran. Jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya tiba di Grand Mosalla, Teheran, pada Jumat (3/7/2026). Kedatangan jenazah ini menandai dimulainya rangkaian seremoni pemakaman agung yang diperkirakan bakal dihadiri oleh jutaan orang.
Khamenei wafat akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir Februari lalu. Prosesi pemakaman yang sempat tertunda akibat berkecamuknya perang ini akhirnya bisa digelar, memanfaatkan momentum gencatan senjata yang masih rapuh setelah Teheran dan Washington menyepakati perjanjian awal untuk menghentikan konflik.
Selimut Bendera Iran dan Lautan Hitam Pelayat
Melansir laporan AFP, sejumlah dokumentasi foto memperlihatkan momen emosional saat para pelayat menggotong peti jenazah Ali Khamenei yang berbalut bendera kebangsaan Iran memasuki area Grand Mosalla. Tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi seremoni paling sakral dan penting di negeri para mullah tersebut.
Lautan manusia yang mengenakan pakaian serba hitam juga mulai memadati area pra-pemakaman. Peti jenazah sang pemimpin tertinggi disemayamkan dengan latar belakang dekorasi rangkaian bunga merah serta hiasan kupu-kupu putih yang tergantung anggun di udara.
Seruan Perlawanan dari Parlemen Iran
Rangkaian seremoni resmi dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (4/7/2026). Tak hanya rakyat Iran, para pejabat tinggi dari berbagai negara sahabat juga dipastikan hadir. Ketua Parlemen yang juga Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyerukan mobilisasi massa secara besar-besaran. Menurutnya, kehadiran rakyat adalah simbol ketegasan Iran di mata dunia.
“Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Iran untuk menuliskan halaman gemilang dalam sejarah Islam Iran melalui kehadiran Anda semua. Seruan bangsa untuk pembalasan ini harus bergema lantang di telinga seluruh dunia,” tegas Ghalibaf pada Kamis (2/7/2026).
Solidaritas internasional juga terlihat dari konfirmasi kehadiran para pemimpin dunia. Pakistan, yang bertindak sebagai mediator utama antara Iran dan AS, memastikan Perdana Menteri Shehbaz Sharif akan terbang langsung ke Teheran.
Selain itu, China, Afghanistan, serta negara-negara tetangga di kawasan Kaukasus dipastikan mengirimkan delegasi resmi mereka.
Jalur Panjang Menuju Peristirahatan Terakhir
Persiapan di Grand Mosalla sendiri sudah digenjot sejak Kamis kemarin di bawah pengawasan ketat tim keamanan.
“Kami sedang menanam bunga dan menyiram tanaman semak untuk seremoni perpisahan bagi pemimpin kami yang gugur sebagai syuhada. Orang-orang akan datang dari seluruh penjuru Iran. Akan ada kerumunan massal yang sangat besar,” ungkap Hossein Mohadassi, salah satu pekerja di lokasi.
Selain jenazah Ali Khamenei, kompleks Grand Mosalla juga akan menjadi tempat persemayaman bagi anggota keluarganya yang turut menjadi korban dalam serangan AS-Israel tersebut. Pemerintah Iran pun telah menetapkan hari libur nasional selama rangkaian pemakaman berlangsung.
Otoritas setempat memberlakukan pengamanan ketat, termasuk penutupan sebagian wilayah udara Teheran mulai Jumat ini, yang akan berlanjut menjadi penutupan total pada Senin (6/7/2026).
Rangkaian prosesi ini tidak hanya berpusat di Teheran, melainkan juga akan menyambangi kota suci Qom dan Mashhad. Menariknya, jenazah Ali Khamenei juga dijadwalkan akan dibawa melintasi perbatasan menuju kota suci Syiah di Irak, yakni Najaf dan Karbala, sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum akhirnya diterbangkan kembali ke Iran.
Sang pemimpin tertinggi direncanakan bakal dimakamkan pada 9 Juli mendatang di kompleks Makam Imam Reza di kota kelahirannya, Mashhad.











