Penjual cabai di Kediri. (Foto: Pemkab Kediri)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pekan kedua Bulan Ramadan, membuat emak-emak merasa getir menatap harga pangan yang mulai merangkak naik.
Berdasarkan panel konsumen Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Jumat (27/2/2026), harga beras kelas premium mencapai Rp15.605 per kilogram (kg).
Atau di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok Rp14.900 per kg. Sedangkan beras medium dihargai Rp13.386 dan beras SPHP Rp12.452 per kg.
Nah, harga cabai rawit merah yang cukup fluktuatif ini, mencapai Rp72.251 per kg, sementara minyak goreng (migor) subsidi atau Minyakita dibanderol Rp16.926 per liter.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, Perum Bulog semakin menggencarkan pemantauan harga dan stok selama Ramadan. Langkah efektif untuk menjaga stabilitas harga dan stok menjelang Lebaran.
Meski ada kenaikan, dia bilang, mayoritas harga bahan pokok relatif stabil dan sesuai HET. Termasuk beras. “Kita punya pengalaman saat Natal dan Tahun Baru lalu harga bisa stabil. Harapannya selama Ramadan dan Idul Fitri ini juga tetap terjaga,” kata Rizal, Jumat (27/2/2026).
Untuk daging sapi di beberapa pasar yang telah dipantau, harganya mengalami penurunan dari Rp140.000 menjadi Rp130.000 per kg. Pun demikian dengan daging ayam, turun dari Rp40.000 menjadi Rp35.000 per kg.
Komoditas yang mengalami kenaikan signifikan, menurut dia, hanya cabai akibat cuaca ekstrem. Semisal, cabai merah naik dari Rp28.000 menjadi Rp32.000 per kg. Untuk cabai rawit naik Rp10.000 menjadi Rp82.000 per kg. “Khusus cabai ini memang agak susah dikontrol karena pengaruh cuaca,” ujarnya.
Ia memastikan pasokan bahan pokok selama Ramadan dalam kondisi cukup. Selain itu, daftar harga acuan yang dipasang Kementerian Perdagangan (Kemendag) di pasar disebut menjadi referensi bagi pedagang dan alat kontrol bagi satgas pangan untuk menjaga stabilitas harga.
Sebelumnya, Deputi Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pemerintah terus mengawal pasokan dan distribusi agar kenaikan tidak semakin tajam.
Ia menegaskan, pengamanan stok, operasi pasar, dan bantuan pangan rutin dilakukan untuk meredam gejolak. “Kalau tidak ada upaya-upaya itu, kenaikan bisa lebih tinggi,” katanya di kantor Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan, Kamis (26/2/2026).













