Yanto (49) saat menepikan gerobak kayu miliknya untuk memilah barang bekas di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Minggu (5/7/2026). Gerobak seharga Rp700 ribu yang ia beli dengan cara mencicil ini menjadi satu-satunya modal utama Yanto untuk menyambung hidup sebatang kara di metropolitan. (Foto: Inilah.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Roda gerobak kayu itu berderit pelan, memecah bising knalpot di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Di atasnya, bertumpuk kardus mi instan yang mulai lecek, botol plastik air mineral, hingga lembaran kertas koran bekas. Di balik kemudi gerobak itu, langkah kaki Yanto (49) tampak konstan. Matanya awas menatap tiap sudut trotoar dan bak sampah, mencari apa saja yang bisa ditukar dengan rupiah.
Sore itu, Minggu, 5 Juli 2026, langit Jakarta agak temaram. Bagi sebagian orang, petang di akhir pekan adalah waktu untuk bersantai bersama keluarga. Namun bagi Yanto, ini adalah jam-jam krusial untuk menambah isi gerobaknya sebelum malam menjemput.
Pria asal Brebes, Jawa Tengah ini sudah setahun terakhir mengakrabi aspal jalanan ibu kota sebagai pengumpul rongsokan. Rute harian kakinya terbilang luar biasa, membentang dari kawasan Rawasari hingga Buaran, Jakarta Timur. Sebuah wilayah yang cukup luas untuk diarungi dengan mengandalkan sepasang kaki dan tenaga otot tangan.
“Baru setahun ini mbak jalanin begini,” kata Yanto membuka obrolan saat ditemui Inilah.com di pinggiran jalan kawasan Cipinang.
Ketika Badai Corona Mengubah Garis Nasib
Yanto sebenarnya bukan orang lama di dunia perongsokan. Jauh sebelum jemarinya terbiasa memilah sampah, ia adalah seorang pedagang di Pasar Klender. Hidupnya kala itu jauh lebih tertata. Saban hari ia melayani pembeli, mengelola modal, dan membawa pulang untung yang terukur.
Namun, hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu mengubah segalanya tanpa permisi. Ekonomi tiarap, daya beli ambles, dan lapak dagangannya pelan-pelan gulung tikar. Sisa-sisa napas usahanya tak mampu lagi bertahan dari efek domino krisis tersebut.
“Pas corona itu, semua jadi goyang. Usaha mandek, modal habis,” kenang Yanto lirih, sembari tangannya cekatan melipat sebuah kardus besar agar muat ke dalam gerobaknya.
Enggan menyerah pada keadaan atau mengemis di perempatan jalan, Yanto memilih jalan yang keras namun halal: memungut apa yang dibuang orang lain. Kini, ia harus rela menjalani hidup sebatang kara di Jakarta. Sementara anak dan istrinya berada jauh di pulau seberang, Sumatera.
Jarak dan keterbatasan biaya membuat Yanto hanya bisa pulang setahun sekali. Kerinduan pada keluarga sengaja ia kubur dalam-dalam di tiap jengkal jalanan yang ia lalui.
Matematika Bertahan Hidup di Atas Roda Kayu
Menjadi pengumpul rongsokan di Jakarta adalah soal menjaga napas dan kesabaran. Yanto menceritakan, rutinitasnya bermuara setiap tiga hari sekali. Saban tiga hari, tumpukan barang bekas yang ia kumpulkan dari jalanan akan dibawa ke tempat pengepul besar di kawasan Tanah Merah, Pondok Kelapa, Jakarta Timur untuk ditimbang.
Dari lembaran kardus dan botol plastik yang berhasil ia kumpulkan itu, Yanto biasanya mengantongi uang sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu sekali timbang. Jika dirata-rata, penghasilannya tidak sampai Rp70.000 per hari. Angka yang sangat minim untuk mengimbangi mahalnya biaya hidup di metropolitan.
Namun, di tangan Yanto, uang yang tidak seberapa itu dipaksa cukup untuk segala urusan.
“Ya buat makan sehari-hari, sama harus ada yang disimpan. Takutnya sewaktu-waktu sakit atau ada apa-apa, kan tidak ada saudara di sini,” ucapnya dengan nada suara yang tenang, tanpa ada kesan mengeluh.
Gerobak Cicilan Penjaga Asa
Ada satu kebanggaan tersendiri yang terselip di balik raut wajah lelah Yanto. Gerobak kayu yang kini bermuatan penuh itu bukan barang sewaan, bukan pula pinjaman dari juragan rongsokan yang kerap mengikat para pemulung dengan sistem setoran mengikat.
Gerobak itu adalah hak milik Yanto sepenuhnya. Ia membelinya dengan cara mencicil sedikit demi sedikit dari penghasilannya yang pas-pasan, hingga akhirnya lunas di angka Rp700 ribu.
“Awalnya beli nyicil, harganya tujuh ratus ribu,” kata Yanto dengan senyum tipis yang mengembang di sudut bibirnya.
Bagi Yanto, gerobak seharga Rp700 ribu itu bukan sekadar alat angkut atau kotak kayu beroda. Benda itu adalah modal utama, aset terbesar, sekaligus ‘teman’ setianya yang paling setia menemani menyusuri kerasnya Jakarta.
Di atas gerobak itulah seluruh harapan hidupnya diletakkan. Di sela-sela terik siang yang menyengat, gerobak itu menjadi tempatnya bersandar untuk sekadar melepas lelah. Bahkan, gerobak itu seakan menjadi rumah bagi Yanto untuk pulang dan beristirahat.
Bagi warga Jakarta yang berlalu-lalang, tumpukan plastik dan kardus di gerobak Yanto mungkin tak lebih dari sekadar sampah yang mengotori pemandangan. Namun di mata Yanto, setiap lembar kardus bekas adalah penyambung nyawa.
Dari barang-barang sisa yang tak lagi dianggap berharga oleh orang lain, Yanto merajut asa, mengumpulkan rupiah demi rupiah, demi sebuah impian sederhana: bertahan hidup dan kembali pulang memeluk keluarganya di Sumatera.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













