Garuda Indonesia siapkan rights issue lanjutan 2026 setelah sukses inbreng aset lahan Angkasa Pura Indonesia (API) senilai Rp5,66 triliun ke GMF AeroAsia (GMFI). (Foto: Dok. Garuda Indonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) tak mau berpuas diri dengan satu langkah restrukturisasi. Setelah sukses menggeber aksi korporasi besar berupa inbreng aset lahan PT Angkasa Pura Indonesia (API) senilai triliunan rupiah ke anak usahanya, PT GMF AeroAsia Tbk. (GMFI), GIAA kini membuka opsi untuk melanjutkan skema rights issue tahap berikutnya pada 2026.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari roadmap ambisius GIAA untuk memperkuat kinerja bisnis dan mempercepat pemulihan ekuitas Grup secara keseluruhan.
“Ke depan, sejalan dengan roadmap aksi korporasi 2026 dalam penguatan kinerja bisnis secara grup, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan aksi korporasi lanjutan guna memperkuat kinerja bisnis Grup,” ujar Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, penuh optimisme dalam konferensi pers virtual, Kamis (27/11/2025).
Thomas menekankan bahwa tahun 2025 menjadi momentum vital untuk mengakselerasi pemulihan ekuitas dan mempertajam daya saing Grup Garuda di tengah dinamika industri penerbangan global.
Inbreng Aset Raksasa untuk Penyehatan Ekuitas
Opsi rights issue lanjutan ini muncul setelah GMF AeroAsia (GMFI) menuntaskan inbreng aset yang spektakuler. Melalui skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II), GMFI menerbitkan hingga 124,27 miliar saham Seri B.
GIAA, selaku pemegang saham utama GMFI, mengalihkan seluruh haknya kepada API. API lantas menyetorkan aset non-tunai berupa lahan seluas 972.123 meter persegi di area GMF Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, yang ditaksir senilai Rp5,66 triliun.
Aksi korporasi ini bukan sekadar pemindahan aset biasa. Direksi GMF menyebutnya sebagai upaya penyehatan dan sinergi mendalam dalam ekosistem Garuda Group.
Dampak langsungnya diproyeksikan sangat signifikan:
– Ekuitas GMFI Berbalik Positif: Posisi ekuitas GMF diproyeksikan berbalik dari defisiensi (minus) US$248,99 juta menjadi positif US$102,87 juta.
– Perbaikan Rasio Keuangan: Rasio keuangan fundamental seperti Return on Equity (ROE) akan melonjak dari minus 3,5 persen menjadi 8,5 persen, sementara Current Ratio meningkat dari 87,9 persen menjadi 90,7 persen.
“Percepatan perbaikan posisi ekuitas positif kami harapkan dapat terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi,” tutur Thomas.
Dana segar dari publik (selain inbreng aset) yang terkumpul dari PMHMETD II ini juga akan digunakan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian bahan baku dan suku cadang pesawat, yang sangat krusial bagi bisnis Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) GMF.
API Jadi Pengendali Baru, Garuda Tetap Pimpin Sinergi
Meskipun sukses melaksanakan inbreng ini, GIAA memastikan bahwa opsi rights issue lanjutan pada 2026 masih perlu dikaji dan dibahas lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan, termasuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Pasca-rights issue tahap kedua ini, komposisi pemegang saham GMFI memang akan berubah drastis. API diproyeksikan akan menjadi pemegang saham mayoritas, sementara kepemilikan GIAA terdilusi. Pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya berpotensi terdilusi hingga 76,79 persen.
Namun, Thomas menegaskan, rencana transaksi strategis ini tidak akan mengakibatkan perubahan kendali operasional terhadap GMFI. Langkah ini justru memperkuat struktur modal, menurunkan beban sewa operasional, dan mendukung keberlanjutan bisnis MRO sebagai bagian dari ekosistem bisnis penerbangan yang terintegrasi di bawah naungan restrukturisasi Grup GIAA.
“Hal ini yang kami yakini akan membawa Garuda Indonesia memasuki fase transformasi ketahanan finansial yang lebih kuat, sustain, dan semakin baik lagi,” pungkas Thomas.














