Gara-gara Duit Rp75 Ribu, Guru PPPK Dibebastugaskan Usai Telanjangi Murid

Reza Medium.jpeg

Kamis, 12 Februari 2026 – 02:00 WIB

Ilustrasi para wali murid memprotes aksi penelanjangan murid di SDN Jelbuk 02, Jember, Jawa Timur. (Foto: Gemini AI).

Ilustrasi para wali murid memprotes aksi penelanjangan murid di SDN Jelbuk 02, Jember, Jawa Timur. (Foto: Gemini AI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Uang Rp75 ribu yang hilang berujung geger satu sekolah dasar di Jember, Jawa Timur. Seorang guru wali kelas V diduga melucuti pakaian 22 muridnya demi mencari uang yang tak kunjung ditemukan.

Peristiwa itu disebut terjadi di SDN Jelbuk 02 pada Jumat (6/2/2026). Guru berstatus PPPK berinisial FT tersebut awalnya menggeledah tas para siswa satu per satu. Namun karena uang tak ditemukan, penggeledahan berlanjut ke tubuh siswa.

Siswa laki-laki diminta menanggalkan seluruh pakaian hingga tanpa busana. Sementara siswa perempuan diperintahkan membuka pakaian dan hanya menyisakan pakaian dalam.

Kepala Dinas Pendidikan Jember, Arief Tjahjono, mengatakan pihaknya telah memanggil yang bersangkutan untuk dimintai klarifikasi. Dari pemeriksaan awal, guru itu mengaku sudah beberapa kali kehilangan uang.

“Kalau cerita dari yang bersangkutan katanya beliau kehilangan uang Rp200 ribu pada Senin (2/2/2026). Dan itu bukan yang pertama kalinya menurut guru tersebut,” kata Arief, Rabu (11/2/2026).

Menurut Arief, pada hari kejadian guru tersebut kembali kehilangan uang Rp75 ribu dalam pecahan baru. Ia menduga kondisi kesehatan dan tekanan psikologis ikut memicu tindakan di luar batas tersebut.

Meski guru itu mengakui kesalahan, Dispendik tetap menjatuhkan sanksi administratif sesuai prosedur.

“Tetapi kami selaku dinas juga harus bertindak profesional sesuai dengan SOP yang berlaku, maka akan ada hal-hal yang harus kita lakukan,” tegasnya.

Sebagai langkah awal, guru tersebut ditarik sementara dari tugas mengajar. Dispendik juga berkoordinasi dengan OPD lain untuk kemungkinan pemindahan penugasan.

“Jadi kita tarik untuk sementara sembari kita berkoordinasi dengan OPD (organisasi perangkat daerah) yang lain, agar supaya beliau bisa kita pindahkan di tempat yang lain. Tujuannya agar supaya siswa dan wali murid ini bisa menjalani kegiatan belajar mengajar dengan baik lagi,” katanya.

Kejadian itu terungkap setelah para wali murid curiga anak-anak tak kunjung pulang hingga siang. Mereka mendatangi sekolah dan mendobrak pintu kelas yang tertutup.

“Karena sampai Jumat siang anak-anak tidak pulang, wali murid datang mengecek. Kami mendapat laporan dari siswa kelas VI yang melihat kejadian itu,” ujar salah satu wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan, Senin (9/2/2026).

Dampaknya tak ringan. Banyak siswa disebut mengalami trauma. Pada Sabtu (7/2/2026), hanya enam siswa yang berani masuk sekolah setelah dipanggil guru. Puluhan lainnya memilih tidak hadir karena takut.

Wali murid sempat berencana mengirim petisi agar guru tersebut dipecat. Namun Dispendik lebih dulu melakukan mediasi pada Minggu (8/2/2026). Dalam mediasi itu, salah satu orang tua mengaku diminta menandatangani surat pernyataan.

“Sudah ditangani Diknas. Kami diminta tanda tangan untuk tidak bicara, kalau saya ngomong nanti saya yang kena,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt Kepala SDN Jelbuk 02 Arif Rahman menyatakan penanganan sepenuhnya diserahkan kepada Dinas Pendidikan. “Saya serahkan semua ke Diknas, silakan konfirmasi ke sana,” katanya.