Evaluasi Tur Eropa 2026: Indonesia Nihil Gelar, Begini Respons PBSI

Ivan Medium.jpeg

Kamis, 26 Maret 2026 – 18:23 WIB

Ilustrasi PBSI (Foto: PBSI)

Ilustrasi PBSI (Foto: PBSI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Rangkaian tur Eropa 2026 yang meliputi German Open, All England, Swiss Open, hingga Orleans Masters telah usai. Meski skuad Merah Putih gagal membawa pulang satu pun gelar juara, Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) tetap melihat adanya sinyal positif dari sisi perkembangan performa atlet.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, Eng Hian, menegaskan bahwa tur Eropa kali ini bukan sekadar mengejar hasil instan, melainkan bagian dari strategi pembinaan jangka panjang, terutama bagi para pemain muda.

“Kalau melihat hasil memang belum sesuai harapan, tetapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada perkembangan yang cukup baik. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia,” ujar Eng Hian dalam rilis resmi PBSI, Selasa (24/3/2026).

Pencapaian di Swiss Open dan All England

Prestasi paling menonjol dalam tur kali ini tercatat pada ajang Swiss Open 2026. Indonesia berhasil mengirimkan dua wakil ke partai puncak melalui tunggal putra Alwi Farhan dan tunggal putri Putri Kusuma Wardani (Putri KW). Sayangnya, keduanya harus puas menempati posisi runner-up. Alwi takluk dari wakil Jepang, Yushi Tanaka, sementara Putri KW kalah dari unggulan Thailand, Supanida Katethong.

Selain itu, kejutan datang dari ganda putra muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang berhasil menembus semifinal All England. Di ajang Orleans Masters, pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana serta ganda putri Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum juga menunjukkan tajinya dengan mencapai babak empat besar.

Pekerjaan Rumah: Konsistensi dan Kontrol Pikiran

Meski menunjukkan peningkatan kualitas, PBSI tidak menutup mata terhadap kelemahan utama para atlet: konsistensi di poin-poin kritis. Eng Hian menyebutkan bahwa ketenangan di momen krusial menjadi pembeda utama antara pemenang dan pecundang.

Senada dengan Eng Hian, Kepala Pelatih Tunggal Putri, Imam Tohari, memberikan catatan khusus bagi Putri KW. Menurutnya, faktor mental dan kontrol pikiran di partai final masih menjadi kendala utama.

“Di final, Putri belum bisa mengeluarkan permainan terbaiknya. Faktor mental dan kontrol pikiran yang kurang tenang cukup memengaruhi. Tekanan di partai final memang berbeda, dan ini yang harus diperbaiki ke depannya,” jelas Imam.

Modal Menuju Turnamen Selanjutnya

Kegagalan meraih gelar di Eropa akan dijadikan pijakan penting bagi tim pelatih untuk melakukan evaluasi menyeluruh. PBSI berkomitmen untuk terus membenahi aspek mentalitas dan kematangan bermain agar para atlet muda Indonesia semakin siap bersaing di level elite dunia.

“Hasil di tur Eropa ini akan menjadi pijakan penting untuk langkah selanjutnya, dengan berbagai perbaikan yang akan dilakukan secara bertahap dan terukur,” tutup Eng Hian.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang