Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan mengingatkan pemerintah untuk tidak menganggap enteng dobel downgrade dari Moody’s Investors Service (Moody’s) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pada Kamis (5/2), Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini membuat indeks saham (IHSG) turun 2,83 persen pada penutupan perdagangan sesi pertama Jumat (6/2).
“Seminggu sebelumnya, MSCI memberi peringatan kemungkinan menurunkan status bursa Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market. Peringatan MSCI membuat IHSG anjlok tajam,” kata Anthony, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Tinjauan negatif dari kedua lembaga pemeringkat global itu, tentu saja dilatarbelakangi alasan serupa. Yakni, terkait kualitas tata kelola dan transparansi kebijakan, yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi jangka menengah dan panjang.
“Moody’s menyoroti kualitas tata kelola, prediktabilitas kebijakan, risiko (keberlanjutan) fiskal, serta pelemahan kelembagaan, apakah yang dimaksud Bank Indonesia? Sedangkan MSCI menyoroti tata kelola dan transparansi bursa, termasuk transparansi kepemilikan saham, kualitas free float dan perilaku perdagangan saham, apakah pembentukan harga melalui mekanisme pasar atau intervensi,” bebernya.
Kekhawatiran terhadap Moody’s dan MSCI ini, dapat dimaklumi. Di mana, Indeks saham (IHSG) sempat meroket sekitar 50 persen, hanya dalam tempo 9 bulan. Dari titik terendah 5.996 pada 8 April 2025, menjadi 9.000 pada 8 Januari 2026.
“Kenaikan fantastis ini, tentunya mengundang pertanyaan dan juga kekhawatiran bagi investor global. Ternyata, Moody’s juga. Apakah lonjakan indeks ini alami, atau dibuat alias rekayasa. Oleh karena itu, MSCI menuntut keterbukaan nama pemilik saham yang sebenarnya, bukan nama broker perantara atau anonim,’ beber Anthony.
Dari daftar kepemilikan saham dapat dilihat apakah pergerakan harga saham alami atau dibuat, berapa banyak saham buyback dan berapa besar transaksi saham dari perusahaan tertentu.
Kenaikan indeks yang fantastis dalam waktu relatif singkat juga mengundang curiga. Apalagi kalau kenaikan tersebut tidak didukung faktor fundamental, di mana pertumbuhan ekonomi stagnan di ‘5 persen’.
“Kenaikan indeks yang tinggi tersebut juga kontras dengan periode 8 bulan sebelumnya yang terus turun dari 7.606 pada 26 Agustus 2024 ke titik terendah 5.996 pada 8 April 2025, atau turun 21,17 persen,” jelasnya.
Sedangkan Moody’s, kata Anthony, menunjukkan kekhawatiran terhadap risiko (keberlanjutan) fiskal yang semakin lemah. Program belanja sosial yang sangat besar dan strategi fiskal ekspansif akan menekan fleksibilitas anggaran. “Sedangkan penerimaan perpajakan terus melemah, turun mejadi 9,3 persen pada tahun 2025,” bebernya.
Tanpa ada perbaikan tata kelola dan transparansi yang bisa menetralisir kekhawatiran kedua lembaga global tersebut, downgrade menjadi sangat mungkin.
Kalau kekhawatiran berlanjut, downgrade ke investment grade rendah, mendekati non-investment grade, bisa menjadi kenyataan. “Artinya, risiko surat utang (obligasi) naik. Biaya bunga (yield) secara nasional juga naik,” kata Anthony.
Downgrade juga membuat aliran likuiditas ke Indonesia terbatas, karena investor menghindari surat utang yang mendekati non-investment grade dengan risiko yang lebih tinggi. Ternyata, MSCI lebih ketat, memberi batas waktu sampai Mei 2026. Tanpa perbaikan berarti, penurunan status Indonesia ke Frontier Market akan menjadi kenyataan.
Kalau ini sampai terjadi, investasi portfolio asing akan keluar dari Indonesia. Jumlahnya sangat signifikan. Karena kebanyakan investor institusional mempunyai ketentuan investasi hanya untuk emerging market, sehingga mereka wajib menjual saham di negara dengan status frontier market.
“Potensi outflow dari Indonesia diperkirakan bisa mencapai puluhan miliar dolar AS, dan bersifat struktural, tidak akan balik selama status masih frontier market. Downgrade dari kedua lembaga ini, Moody’s dan MSCI, saling memperkuat dampaknya, melalui dua saluran yang berbeda,” pungkasnya.














