Koki selebritas ternama, Chef Juna, tengah menjadi sorotan tajam publik dan memicu perdebatan sengit di media sosial usai mengkritik etos kerja Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Kritikan tersebut dilontarkan terkait seorang karyawannya yang meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan menjaga anak yang sedang sakit, sebuah tindakan yang menurut Juna mencerminkan sikap pekerja yang “manja”.
Dalam sebuah cuplikan siniar (podcast) bersama Raditya Dika yang viral baru-baru ini, Chef Juna menceritakan pengalamannya menghadapi salah satu staf tingkat Chef de Partie (CDP) yang mendadak absen lantaran anaknya sakit.
Menanggapi situasi tersebut, Juna merespons dengan tegas dan menilai kehadiran staf pria tersebut di rumah tidak akan berkontribusi langsung pada kesembuhan sang anak.
“Call me heartless. Yang sakit kan anaknya. Istrinya ada di rumah. Terus ngapain kamu ikut-ikutan di rumah? Emang kamu ikutan di rumah anak kamu sembuh gitu, tiba-tiba zeng gitu, sembuh gitu. Kalau pintar masuk,” ujar Chef Juna.
Juna menekankan bahwa ritme kerja di dapur profesional sangat terstruktur dan bergantung pada kehadiran setiap individu di posnya. Ketidakhadiran satu orang, terutama secara mendadak, dinilai dapat melumpuhkan operasional tim secara keseluruhan.
Selain menyatakan bahwa izin semacam itu tidak dihitung sebagai cuti dan berakibat pada pemotongan gaji, ia secara blak-blakan mengaku akan membuat staf tersebut “merasakan neraka” saat kembali bekerja sebagai bentuk teguran. Menurutnya, mentalitas mudah meminta izin ini sudah menjadi budaya yang membuat SDM Indonesia terlihat manja.
Respons Publik Terbelah
Pernyataan blak-blakan Juna sontak membelah opini publik secara luas. Sebagian besar warganet mengecam keras sikap tersebut karena dinilai nir-empati dan mengabaikan peran penting seorang ayah dalam pengasuhan anak. Publik juga menyoroti potensi terciptanya lingkungan kerja yang toksik (hostile work environment) akibat pendekatan retributif sang chef.
“Asumsi bahwa semua istri bisa atau siap menangani anak sakit sendirian di rumah sangat bias. Banyak yang istrinya juga bekerja atau bahkan berstatus single parent,” keluh salah satu warganet di media sosial.
Di sisi lain, dukungan juga mengalir untuk Chef Juna. Sejumlah pihak yang memahami dinamika industri Food & Beverage (F&B) membenarkan bahwa standar kedisiplinan di dapur profesional—terutama pada tingkat fine dining—memang sangat ketat dan tanpa kompromi. Para pendukungnya menilai, sebagai pemilik bisnis, wajar jika ia menuntut dedikasi total demi kelancaran operasional restoran.













