Review The Odyssey: Blockbuster Dewa dan Monster yang Hanya Bisa Dibuat Nolan

Christopher Nolan tidak hanya memindahkan puisi epik Homer ke layar lebar. Ia membongkar sosok Odysseus, mengempiskan aura kedewaannya, lalu mengirim seorang manusia penuh luka ke tengah laut yang dihuni monster, penyihir, dan dosa masa lalu.

Christopher Nolan datang ke Yunani kuno bukan untuk membuat museum.

Di tangannya, The Odyssey tidak tampil sebagai pelajaran sastra klasik yang kaku, berdebu, dan terlalu sopan. Film ini bergerak seperti kapal perang yang dihantam badai: berat, berisik, megah, sesekali oleng, tetapi hampir selalu sulit dialihkan dari pandangan.

Diadaptasi dari puisi epik Homer, film ini mengikuti Odysseus, Raja Ithaka yang berusaha pulang setelah Perang Troya. Perjalanan yang seharusnya sederhana berubah menjadi pengembaraan panjang berisi monster bermata satu, godaan para perempuan abadi, murka lautan, pengkhianatan, dan hukuman atas kesombongan manusia.

The Odyssey telah tayang di bioskop Indonesia sejak 15 Juli 2026 dengan durasi 2 jam 52 menit. Cinema XXI mengategorikannya sebagai film petualangan dan fantasi. Film tersebut juga menjadi proyek layar lebar pertama yang seluruh gambarnya direkam menggunakan kamera film IMAX, menjadikannya tontonan yang sejak awal memang dirancang untuk layar sebesar mungkin.

Nolan Akhirnya Membiarkan Keajaiban Masuk

Sebelum film ini hadir, ada alasan kuat untuk meragukan Nolan sebagai orang yang tepat mengadaptasi The Odyssey.

Sutradara Oppenheimer, Dunkirk, dan The Dark Knight itu dikenal menyukai dunia yang dingin, konkret, dan mekanis. Bahkan ketika memainkan mimpi dalam Inception atau membengkokkan waktu dalam Tenet, Nolan tetap memperlakukan keajaiban seperti persoalan teknik yang harus dibedah menggunakan papan tulis.

Sementara itu, kisah Homer justru hidup dari kegilaan. Para dewa ikut campur seperti keluarga bangsawan yang gemar bertengkar. Monster memakan manusia. Penyihir mengubah prajurit menjadi binatang. Para penggoda menawarkan kenikmatan sekaligus kehancuran.

Tanpa unsur-unsur tersebut, The Odyssey hanya akan menjadi cerita tentang seorang ayah yang pergi berperang, gagal pulang tepat waktu, lalu membiarkan keluarganya menunggu selama bertahun-tahun.

Untungnya, Nolan tidak menyingkirkan keajaiban itu.

Monster, badai, siren, Cyclops, Circe, Calypso, dan berbagai ancaman mitologis tetap hadir. Namun semuanya ditarik ke dalam bahasa visual Nolan: keras, bertekstur, dan terasa memiliki bobot. Kayu kapal berderit. Tali menegang. Tubuh para prajurit terpelanting. Laut bukan sekadar latar biru yang cantik, melainkan mesin raksasa yang dapat menelan manusia kapan saja.

Hasilnya merupakan perpaduan unik antara film “pedang dan sandal” Hollywood klasik dengan film aksi modern beranggaran besar. Ada aroma petualangan Ray Harryhausen, tetapi dengan skala, ketelitian suara, dan kekuatan gambar khas Nolan.

Film ini tidak menertawakan mitologinya. Ia juga tidak malu menikmati monster-monsternya.

Matt Damon Bukan Odysseus yang Licik

Pemilihan Matt Damon sebagai Odysseus merupakan keputusan paling menarik sekaligus paling mudah diperdebatkan.

Dalam karya Homer, Odysseus adalah manusia yang menang melalui kecerdikan. Ia pandai berbicara, berbohong, menyusun tipu daya, dan membaca kelemahan lawan. Senjata utamanya bukan pedang, melainkan kelicinan pikiran.

Damon tidak memiliki aura seperti itu.

Wajah dan persona layarnya lebih dekat kepada pria biasa yang dapat dipercaya: prajurit yang akan menjaga punggung rekannya, astronaut yang harus diselamatkan, atau agen yang kehilangan ingatan tetapi masih memiliki kompas moral. Bukan raja licik dengan senyum tipis yang selalu menyembunyikan rencana kedua.

Alih-alih memaksa Damon menjadi Odysseus versi buku, Nolan justru mengubah Odysseus agar sesuai dengan Damon.

Tokoh ini dibuat lebih rapuh, lebih konvensional, dan lebih mudah dipahami secara emosional. Perjalanannya bukan hanya tentang mengalahkan monster agar bisa pulang, tetapi tentang menghadapi rasa bersalah akibat perang, kesombongan, dan keputusan-keputusan yang menghancurkan orang lain.

Odysseus versi ini mungkin kehilangan sebagian taring intelektualnya. Namun sebagai gantinya, ia mendapatkan tubuh dan luka yang lebih manusiawi.

Kompromi tersebut tidak selalu berhasil mulus. Dalam beberapa bagian, Damon terlihat terlalu tertahan untuk seorang tokoh yang seharusnya mampu menaklukkan ruangan hanya dengan kata-kata. Karismanya bahkan beberapa kali dikalahkan oleh Robert Pattinson sebagai Antinous, pelamar Penelope yang licin, berkeringat, dan sangat mudah dibenci.

Namun ketika film menuntut kelelahan, penyesalan, dan keteguhan seorang pria yang hampir lupa alasan dirinya ingin pulang, Damon bekerja dengan sangat baik.

Petualangan Besar, tetapi Rumah Tetap Menjadi Pusatnya

Di Ithaka, Penelope yang diperankan Anne Hathaway terus menunggu suaminya. Rumahnya dikuasai para pria yang ingin merebut takhta sekaligus menikahinya, sementara Telemachus yang diperankan Tom Holland tumbuh di bawah bayang-bayang ayah yang mungkin sudah mati.

Penelope bukan sekadar istri setia yang pasif. Ia bertahan melalui kecerdikan, menenun dan membongkar kembali kain yang sama untuk menunda keputusan menikah. Hathaway memerankannya sebagai sosok yang tenang, tertutup, tetapi menyimpan ketegangan tajam di bawah setiap tatapan.

Hubungan antara perjalanan Odysseus dan penantian keluarganya memberi film ini denyut emosional yang penting. Setiap monster yang dihadapi Odysseus selalu memiliki gema di rumah: waktu yang terbuang, keluarga yang terkikis, serta seorang anak yang tumbuh tanpa mengenal ayahnya.

Nolan biasanya begitu terpikat oleh pria, perang, waktu, dan mesin sehingga karakter perempuan hanya berada di pinggir kerangka cerita. Dalam The Odyssey, kelemahan itu belum sepenuhnya hilang. Namun kehadiran Penelope, Athena yang diperankan Zendaya, Circe, Calypso, dan perempuan-perempuan lain setidaknya membuat dunia film ini tidak sepenuhnya berputar mengikuti ego sang pahlawan.

Meski begitu, beberapa bintang hadir terlalu cepat dan pergi sebelum memperoleh ruang yang cukup. Ansambelnya mewah, tetapi kepadatan cerita membuat sejumlah karakter terasa seperti tamu agung yang hanya sempat melambaikan tangan.

Para Dewa Tidak Turun dengan Cara Biasa

Salah satu pilihan paling cerdas Nolan adalah caranya memperlakukan para dewa.

Dalam puisi Homer, dewa-dewi kerap turun tangan secara langsung. Mereka berdebat, mengubah nasib manusia, menyamar, dan mempermainkan perang seperti papan permainan.

Nolan mengambil jalan yang lebih samar. Campur tangan ilahi tidak selalu hadir sebagai pertunjukan cahaya atau figur raksasa dari langit. Para dewa terasa sebagai tekanan psikologis, takdir, intuisi, ketakutan, atau kekuatan yang mungkin nyata tetapi sulit dibuktikan.

Pendekatan ini sangat “Nolan”: logis tanpa sepenuhnya membunuh misteri.

Para siren, misalnya, tidak hanya menggoda laki-laki melalui hasrat seksual. Mereka memancing korbannya menghadapi kebenaran yang terkubur jauh di dalam pikiran—semacam sesi terapi traumatis yang berlangsung di atas kapal dan dapat berakhir dengan kematian.

Di titik inilah The Odyssey menemukan rasa modernnya. Monster bukan hanya rintangan fisik, melainkan bentuk dari trauma, kesombongan, dan dosa yang tidak pernah selesai dibicarakan.

Megah Tanpa Terlalu Sibuk Menjadi Pintar

Nolan terkenal gemar mematahkan kronologi. Ia dapat mengacak waktu sampai penonton merasa sedang menyusun lemari tanpa buku petunjuk.

The Odyssey tetap bergerak melintasi masa lalu dan masa kini. Perjalanan Telemachus, penantian Penelope, pengalaman Odysseus dalam Perang Troya, dan pengembaraannya di laut saling dipotong serta dipertemukan.

Namun kali ini Nolan terlihat lebih terkendali.

Strukturnya kompleks, tetapi tidak terasa seperti teka-teki yang sengaja dibuat untuk memamerkan kecerdasan pembuatnya. Dibandingkan Tenet, ceritanya jauh lebih langsung dan memiliki tujuan emosional yang jelas: pulang.

Kesederhanaan relatif tersebut justru membebaskan Nolan untuk berkonsentrasi pada gambar. Kapal-kapal kecil berada di bawah langit yang seolah tidak memiliki ujung. Kuda Troya berdiri seperti kerangka kapal raksasa. Tubuh manusia terlihat rapuh ketika ditempatkan di hadapan lautan, tebing, monster, dan kehendak para dewa.

Durasi hampir tiga jam tetap terasa. Ada bagian yang dapat dipangkas, beberapa karakter yang tidak berkembang, serta momen ketika keseriusan Nolan membuat petualangan ini terlalu kaku.

Tetapi film tidak tenggelam dalam kemegahannya sendiri. Ia terus bergerak, membenturkan tontonan kolosal dengan pertanyaan yang sangat sederhana: setelah melakukan begitu banyak kekerasan, apakah seorang manusia masih pantas kembali ke rumah?

Film Tentang Kepulangan, Bukan Kemenangan

Kekuatan utama The Odyssey terletak pada keputusan Nolan untuk tidak memperlakukan Odysseus sebagai pahlawan tanpa noda.

Kuda Troya bukan hanya simbol kejeniusannya, tetapi juga kekejamannya. Setiap keberhasilan memiliki korban. Setiap tipu daya meninggalkan luka. Kepulangan bukan hadiah yang otomatis diberikan kepada pemenang perang, melainkan sesuatu yang harus dibayar dengan pengakuan dan kehilangan.

Karena itu, film ini tidak semata-mata berkisah tentang seorang raja yang mengalahkan monster. Film ini berkisah tentang manusia yang perlahan menyadari bahwa monster terbesar mungkin lahir dari tindakannya sendiri.

The Odyssey memang bukan adaptasi yang sepenuhnya setia. Nolan mengurangi kelicikan Odysseus, menambah psikologi modern, serta mengolah mitologi menjadi pengalaman yang lebih rasional dan membumi.

Namun ia menjaga sesuatu yang jauh lebih penting: rasa takjub.

Ini merupakan film untuk penonton dewasa yang masih ingin melihat monster laut menghantam kapal. Film serius yang tidak malu menjadi tontonan. Blockbuster yang percaya bahwa layar bioskop masih dapat dipakai untuk membuat manusia merasa kecil, gentar, dan terpukau.

Nolan mungkin tidak selalu berhasil membuat karakter-karakternya menyentuh hati. Tetapi melalui gambar, suara, skala, dan keyakinannya terhadap kekuatan sinema, ia mampu membuat emosi itu datang dari layar itu sendiri.

Kesimpulan: The Odyssey adalah epos besar yang kasar, indah, dan penuh ambisi. Tidak seluruh elemennya mencapai daratan dengan selamat, tetapi perjalanan yang ditawarkan terlalu megah untuk dilewatkan.

Rating: 9/10

Informasi Film

Judul: The Odyssey
Sutradara: Christopher Nolan
Pemain: Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Zendaya, Robert Pattinson, Charlize Theron, Mia Goth
Genre: Petualangan, fantasi, drama
Durasi: 2 jam 52 menit
Tayang di Indonesia: 15 Juli 2026
Format yang direkomendasikan: IMAX