Cerita dari Balik Terang Lampu Pasar Jatinegara: ‘Denyut Nadi’ Penghobi Ikan Hias

Reyhaanah Medium.jpeg

Senin, 27 April 2026 – 04:20 WIB

Sejumlah warga saat mengunjungi satu tenda penjual ikan hias di Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (24/4/2026).(Foto: inilah.com/Reyhaanah Asya)

Sejumlah warga saat mengunjungi satu tenda penjual ikan hias di Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (24/4/2026).(Foto: inilah.com/Reyhaanah Asya)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Malam belum terlalu larut. Lorong-lorong pasar ikan di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur mulai sesak. Di bawah tenda panjang yang dipenuhi lampu putih terang, deretan akuarium kecil berjajar rapi, masing-masing berisi ikan hias dengan warna mencolok.

Merah menyala, biru metalik, hingga putih transparan. Airnya jernih, tapi suasananya hangat oleh suara tawar-menawar.

Di salah satu lapak, Ardi (34), pedagang ikan hias yang sudah berjualan lebih dari lima tahun, menyebut malam Minggu sebagai “puncak keramaian”.

“Kalau hari biasa ya ada pembeli, tapi nggak seramai ini. Malam Minggu orang memang sengaja datang, entah buat beli atau sekadar lihat-lihat,” ujarnya sambil menunjuk deretan ikan di etalase saat berbincang kepada inilah.com, Jumat (24/4/2026).

Pasar ikan Jatinegara memang punya denyut berbeda saat akhir pekan. Pengunjung datang dari berbagai penjuru, sebagian sekadar berjalan santai, sebagian lain berburu koleksi baru.

Bagi para penghobi, ini bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari gaya hidup yang terus bertahan, bahkan setelah tren ikan hias sempat melonjak di masa pandemi.

Abduh (27), salah satu pembeli, mengaku rutin datang setiap dua pekan sekali. Menurut dia, memelihara ikan memberinya rasa tenang setelah rutinitas kerja.

“Awalnya iseng waktu pandemi, terus jadi hobi sampai sekarang. Ada sensasi sendiri kalau nemu ikan yang warnanya bagus atau langka,” kata Abduh sambil mengambil ikan pilihannya.

Di sudut lain pasar, akuarium bertingkat memajang ikan cupang dengan sirip lebar menyerupai kain. Lampu neon dipasang untuk menonjolkan warna dan gerak ikan. Setiap kotak kecil seperti panggung mini, menampilkan koleksi unggulan.

Ardi mengatakan, harga ikan hias bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis, warna, dan bentuk sirip. Menurutnya, meski tren tidak lagi setinggi beberapa tahun lalu, minat pembeli tetap stabil.

“Sekarang mungkin nggak se-boom dulu, tapi yang serius hobi tetap ada. Bahkan ada yang koleksi sampai puluhan ekor di rumah,” ucap Ardi.

Fenomena ini memperlihatkan minat terhadap ikan hias belum sepenuhnya surut. Selain sebagai hobi, sebagian orang mulai melihatnya sebagai peluang usaha kecil. Perputaran uang di pasar ini tetap hidup, mengikuti selera dan tren yang terus berubah.

Suasana Pasar Ikan Hias Jatinegara, Jakarta Timur pada Jumat (24/4/2026) malam yang semakin dipenuhi pengunjung dari berbagai wilayah di perbatasan Kota Jakarta.(Foto: inilah.com/Reyhaanah Asya)

Tak hanya soal jual beli, pasar ini juga menjadi ruang interaksi. Pedagang dan pembeli kerap berbagi tips, mulai dari cara merawat ikan hingga menjaga kualitas air. Percakapan ringan itu menciptakan suasana akrab di tengah keramaian.

“Di sini enaknya bisa langsung tanya-tanya ke penjual. Jadi nggak cuma beli, tapi belajar juga,” kata Abduh.

Denyut pasar tak berhenti. Menjelang tengah malam, lampu tetap menyala terang, memantulkan kilau air dan warna ikan yang bergerak lincah. Orang-orang masih datang silih berganti, menelusuri lorong demi lorong, mencari ikan yang menarik perhatian.

Di tengah ritme kota yang serba cepat, pasar ikan Jatinegara menawarkan jeda. Dari akuarium kecil yang berjejer, hobi, ekonomi, interaksi sosial bertemu dan terus hidup, dari satu malam Minggu ke malam berikutnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang