Bulan Ramadan tak Menghentikan Perang Pakistan–Afghanistan

Bulan suci Ramadan tidak menjadi jeda bagi konflik bersenjata antara Pakistan dan Afghanistan. Dalam sepekan terakhir, kedua negara kembali terlibat baku tembak di wilayah perbatasan, disertai klaim serangan udara dan tudingan saling melindungi kelompok militan.

Militer Pakistan menyebut ratusan pejuang Taliban tewas dalam operasi lintas batas, sementara belasan tentaranya gugur. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Afghanistan mengklaim puluhan tentara Pakistan tewas akibat serangan balasan. Hingga laporan ini disusun, tidak ada verifikasi independen atas angka korban dari kedua pihak.

Di kota-kota besar Pakistan seperti Lahore, pengamanan diperketat. Aparat berjaga di sekitar masjid saat salat Jumat berlangsung. Pemeriksaan dilakukan di pintu masuk rumah ibadah. Meski situasi tegang, ratusan jamaah tetap hadir. 

“Kami tidak takut. Kami datang untuk beribadah,” kata seorang jamaah di Lahore dikutip dari Viory.

Eskalasi terbaru dipicu serangan yang oleh pemerintah Taliban disebut sebagai “operasi besar” terhadap posisi militer Pakistan di dekat garis perbatasan. Kabul menyatakan langkah itu sebagai balasan atas serangan udara sebelumnya yang dituding menewaskan warga sipil. Islamabad membantah menargetkan sipil dan menegaskan operasi diarahkan pada militan yang merencanakan serangan bunuh diri di wilayah Pakistan.

Akar Konflik: TTP dan Warisan Garis Durand

Ketegangan Pakistan–Afghanistan bukan fenomena baru. Sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada Agustus 2021, hubungan kedua negara memburuk. Titik utama perselisihan adalah keberadaan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan yang berbasis di perbatasan dan kerap melancarkan serangan ke wilayah Pakistan.

Pemerintah Pakistan menuduh Kabul memberi ruang bagi TTP untuk beroperasi dari wilayah Afghanistan. Pemerintahan Taliban membantah tudingan tersebut dan menyatakan tidak mengizinkan wilayahnya dipakai untuk menyerang negara lain. Namun, data keamanan Pakistan menunjukkan peningkatan signifikan serangan di wilayah Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan dalam dua tahun terakhir.

Persoalan lama lain adalah sengketa Garis Durand, batas sepanjang sekitar 2.600 kilometer yang ditarik pada era kolonial Inggris pada 1893. Pakistan menganggap garis itu sebagai perbatasan internasional yang sah. Afghanistan secara historis tidak pernah secara resmi mengakuinya. Ketegangan meningkat saat Pakistan membangun pagar perbatasan untuk membatasi pergerakan lintas batas, langkah yang diprotes Kabul.

Dampak Kemanusiaan dan Stabilitas Kawasan

Eskalasi di bulan Ramadan memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah perbatasan. Ribuan warga sipil dilaporkan mengungsi akibat baku tembak dan serangan udara. Aktivitas perdagangan lintas batas, yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal, juga terganggu.

Komunitas internasional belum mengeluarkan respons kolektif yang tegas. Namun, pengamat keamanan kawasan menilai konflik terbuka antara Pakistan dan Afghanistan berisiko memperluas instabilitas di Asia Selatan. Kedua negara memiliki sejarah panjang hubungan yang fluktuatif, dari kerja sama taktis hingga konfrontasi terbuka.

Ramadan secara tradisional menjadi momentum refleksi dan pengendalian diri bagi umat Muslim. Namun di perbatasan Pakistan–Afghanistan, dentuman artileri dan suara pesawat tempur menggantikan harapan jeda kemanusiaan. Tanpa jalur dialog yang jelas dan komitmen bersama untuk menahan diri, konflik ini berpotensi terus berlanjut melampaui bulan suci.