Ilustrasi pemeriksaan pasien di ruang perawatan rumah sakit. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat total biaya pelayanan kesehatan untuk penyakit kronis mencapai Rp50,28 triliun sepanjang tahun 2025, naik 12 persen dari tahun sebelumnya.
Dewan Pengawas (Dewas), BPJS Kesehatan Lula Kamal mengatakan pos pengeluaran terbesar tersedot untuk membiayai penyakit-penyakit berat berskala katastrofik, seperti jantung, kanker, ginjal, dan stroke.
“Kemudian beban paling banyak adalah penyakit-penyakit katastrofik. Lagi-lagi, jantung, kanker, ginjal, stroke,” kata Lula saat menjadi pembicara dalam Webinar Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina, Jakarta. Rabu (20/5/2026).
Lula menambahkan, pengeluaran untuk biaya pelayanan kesehatan tersebut sejatinya bisa ditekan dan diantisipasi, asalkan ada upaya promotif dan preventif sejak dini terhadap berbagai penyakit kronis itu.
“Tapi kan ini penyakit yang bisa dicegah? Exactly. Penyakitnya masih penyakit yang bisa dicegah,” ungkap Lula.
Melihat kondisi keuangan yang kian kritis, Lula menegaskan perlunya reformasi fokus pelayanan kesehatan nasional.
BPJS Kesehatan dinilai harus segera memperkuat benteng pencegahan penyakit agar anggaran negara tidak habis sekadar untuk mengobati pasien yang sudah terlanjur sakit.
“Berarti, gitu ya, sepanjang perjalanan BPJS, yang barangkali tantangan kita yang PR kita yang belum selesai adalah kita harusnya menitikberatkan bukan di kuratif, bukan di pengobatan,” tutur Lula.
“Tapi promotif, preventif. Nah, ini belum jalan dengan baik. Sehingga uang kita habis nih buat belanja kesehatan. Bukan menjaga kesehatan loh, belanja kesehatan karena orangnya sudah sakit, begitu,” katanya.
Di samping beban pembiayaan layanan kesehatan yang terus membengkak, BPJS Kesehatan juga turut dihantam oleh tantangan demografi serta inflasi biaya medis di fasilitas kesehatan. Sementara di sisi lain, tarif iuran peserta sudah bertahun-tahun tidak mengalami penyesuaian.
“Kemudian tantangan demografi sendiri kita tahu ada aging population, ada TBC yang masih berjalan, penyakit kronis yang begitu banyak, dan adanya invasi medis. Bayangin, iurannya BPJS tidak naik-naik setelah sekian tahun. Sementara kalau dihitung-hitung, yang namanya biaya medis di Indonesia itu sudah paling-paling murah dibandingkan sama negara-negara lain,” rincinya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













