Bertanya Soal Zionisme, Anggota Komisi Kebebasan Beragama AS Dipecat

Di koridor kekuasaan Donald Trump, sebuah pertanyaan kritis ternyata bisa berujung pada ‘vonis mati’ karier politik di Amerika Serikat (AS). Carrie Prejean Boller harus merasakan pahitnya disingkirkan dari posisinya sebagai anggota Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih setelah ia berani mengusik satu hal tabu: mempertanyakan penyamaan antara kritik terhadap paham Zionisme dengan sikap anti-Semitisme.

Keputusan pencopotan ini diumumkan langsung oleh Wakil Gubernur Texas sekaligus Ketua Komisi Kebebasan Beragama Presiden, Dan Patrick, pada Rabu (11/2/2026). Patrick menuduh Boller telah menyalahgunakan sidang federal untuk agenda politik pribadinya.

“Tidak ada anggota komisi yang berhak membajak sidang untuk agenda pribadi atau politik. Itulah yang jelas terjadi dalam sidang tentang anti-Semitisme pada Senin lalu. Ini keputusan saya,” tulis Patrick melalui akun resminya di platform X.

Polemik di Meja Sidang: Katolik Bukan Zionis?

Ketegangan bermula dalam sidang hari Senin (9/2/2026). Saat itu, Boller melontarkan argumen yang cukup berani di tengah sensitivitas politik AS saat ini. Ia mempertanyakan landasan teologis dan politik mengapa penolakan terhadap Zionisme sering kali langsung dicap sebagai kebencian terhadap kaum Yahudi (anti-Semitisme).

“Saya seorang Katolik, dan umat Katolik tidak menganut Zionisme. Jadi, apakah menurut Anda semua umat Katolik itu anti-Semit?” ujar Boller, menantang narasi yang berkembang di ruang sidang.

Boller tidak berhenti di situ. Ia menyoroti fenomena warga Amerika yang terjepit di antara dua posisi sulit: ingin mengecam pembunuhan massal warga sipil di Gaza tanpa harus menyandang label anti-Yahudi. Baginya, kesetiaan pada pandangan politik tertentu tentang Israel seharusnya tidak menjadi syarat bagi seseorang untuk mendapatkan perlindungan kebebasan berpendapat di bawah Amandemen Pertama.

post-cover

Perlawanan Boller: “Anda tak Punya Wewenang!”

Hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman Patrick, Boller meluncurkan serangan balik. Dengan nada tinggi, ia menegaskan bahwa Dan Patrick tidak memiliki legitimasi hukum untuk memecatnya. Menurut Boller, hanya Presiden Amerika Serikat yang berwenang memberhentikan pejabat yang ditunjuk langsung oleh Gedung Putih.

“Anda tidak menunjuk saya dan Anda tidak memiliki kewenangan mencopot saya,” tegas Boller.

Ia bahkan menuding balik bahwa tindakan Patrick justru merupakan bentuk nyata dari pembajakan sidang oleh kelompok kepentingan tertentu. Boller meyakini Patrick bertindak di bawah kerangka politik Zionis yang justru mencederai prinsip kebebasan beragama yang seharusnya dibela oleh komisi tersebut.

Debat Panas yang Viral

Sidang tersebut juga melibatkan dialog sengit dengan Yitzchok Frankel, penggugat utama dalam kasus hukum terhadap University of California Los Angeles (UCLA) terkait kamp aksi pro-Palestina. Frankel dengan tegas menolak argumen Boller, menyatakan bahwa meski aksi protes dilindungi hukum, hal itu tidak boleh berubah menjadi intimidasi terhadap komunitas Yahudi.

Kini, rekaman perdebatan tersebut telah tersebar luas di jagat maya. Insiden ini memicu gelombang kritik dan diskusi panas mengenai batasan antara kritik terhadap kebijakan negara (Israel) dengan kebencian berbasis agama.

Kasus Boller menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara kebebasan berpendapat dan konsekuensi politik di pusat kekuasaan dunia.