Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). (Foto: inilah.com/Clara Anna)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Seretnya penerimaan pajak 2025, benar-benar membuat keuangan negara di ujung tanduk. Mau tambah utang lagi, eits, perlu lebih cermat dan hati-hati. Ingat, rasio utang terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), sudah melebihi 40 persen di akhir 2025.
Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jumat (13/2/2026), total utang pemerintah mencapai Rp 9.637,90 triliun per 31 Desember 2025.
Angka itu setara 40,46 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Terjadi kenaikan utang sebesar Rp229,26 triliun ketimbang catatan utang per 30 September 2025 yang mencapai Rp9.408,64 triliun.
Utang tersebut terdiri dari dua jenis, yakni berbentuk surat berharga negara (SBN) dan utang atau pinjaman. Di mana, jumlah SBN yang dirilis pemerintah hingga akhir 2025 mencapai Rp8.387,23 triliun, atau setara 87,02 dari total utang. Sedang sisanya yang Rp1.250,67 triliun atau 12,98 persen, berbentuk utang atau pinjaman.
Atas data ini, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menerangkan, rasio utang pemerintah terhadap PDB, sebesar 40,46 persen itu, tidak terlepas dari tekanan perlambatan ekonomi pada 2025.
Kata Purbaya, angka itu masih berada di bawah batas aman 60 persen terhadap PDB, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Keuangan Negara.
Meski masih jauh dari ambang batas UU Keuangan Negara, eks Ketua LPS itu, tentu saja, tak mau disebut ugal-ugalan dalam menarik utang baru. Perlu perencanaan keuangan yang lebih matang dan berani. “Kita tata ulang semuanya,” tukasnya di Jakarta, dikutip Jumat (13/2/2026).
Di sisi lain, Purbaya menyebut, langkah penambahan utang dilakukan sebagai strategi menjaga stabilitas ekonomi, agar tidak terjerumus ke krisis yang lebih dalam.
“Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan signifikan. Pilihannya yang mana? Ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya,” kata Purbaya.














