Bencana karena Fenomena LGBT Makin Kasat Mata

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 4 Juli 2026 – 11:01 WIB

Ilustrasi--Perilaku LGBT semakin mudah di temuai di dunia nyata maupun maya, membuat cemas para orang tua. (Desain: Inilah.com/Bece).

Ilustrasi–Perilaku LGBT semakin mudah di temuai di dunia nyata maupun maya, membuat cemas para orang tua. (Desain: Inilah.com/Bece).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ruang keluarga Indonesia, dibikin cemas perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender disingkat LGBT, yang semakin marak. Khususnya di media sosial (medsos) membuat para orang tua Indonesia dilanda was-was.

Ketika jagat publik bernama medsos tak tabu lagi mempertontonkan dua manusia berjenis kelamin sama, sedang bermesraan. Atau beredarnya foto pernikahan sesama jenis nan menjijikkan. Lengkap dengan foto anak, yang belakangan diketahui bukan anaknya.

Di depan mata, semakin banyak perilaku aneh yang merujuk kepada LGBT. Misalnya, pria berbadan kekar namun bergaya melambai. Atau perempuan dengan wajah ayu, namun berpenampilan kekar.

Pun demikian, wanita berparas rupawan namun terlihat jakun lelakinya. Dan, sebagainya. Itu yang kasat mata. Memang tak salah, tapi mencurigakan.

Tentunya, penampakan-penampakan itu berdampak buruk bagi anak-anak dan remaja yang tiap hari melihatnya. Apa jadinya generasi penerus negeri ini. Jika tak segera dilarang, jangan kaget jika komunitas LGBT berkembang pesat dalam waktu cepat.

Narasi LGBT, sejatinya muncul pada era 1990-an, menggantikan istilah sebelumnya yakni ‘komunitas gay’. Artinya, keberadaan kelompok dengan orientasi seksual menyimpang ini, tidak bisa diremehkan.

Gerakan kelompok LGBT di Indonesia, khususnya di kota-kota besar mulai menyasar atau mencari target baru, terutama pada usia remaja. Beberapa sempat tersiar kabar bahwa 3 dari 100 penduduk Indonesia terpapar LGBT. Namun belakangan informasi tersebut dibantah.  

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko mengaku miris dengan maraknya konten LGBT di jagat maya. Penampakan LGBT seolah biasa dipertontonkan di sejumlah platform digital.

Tentu saja, menurut Singgih, kondisi ini sudah sangat membahayakan. Anak-anak hingga remaja yang menjadi generasi harapan Indonesia, begitu mudahnya mengakses perilaku menyimpang dari kodrat manusia itu.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko. (Foto: Dok. Fraksi Partai Golkar DPR-RI).  

“Jika kampanye LGBT dibiarkan bebas di medsos, sudah sangat berbahaya. Berpotensi menormalisasi perilaku menyimpang tersebut. Media sosial tidak boleh menjadi panggung untuk mempromosikan gaya hidup menyimpang,” tegas Singgih.

Politikus Beringin mengakui, infiltrasi budaya LGBT ini, sangat merusak mentalitas generasi penerus. Indonesia yang berlandaskan ideologi Pancasila yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak boleh tinggal diam melihat fenomena yang jelas-jelas merusak tatanan sosial ini.

Dia pun berharap, pemerintahan Prabowo Subianto berani bertindak lebih agresif dalam menyisir dan memblokir akun-akun maupun konten yang bermuatan LGBT. “Tidak bisa didiamkan semakin banyak generasi muda yang terpapar infiltrasi budaya LGBT yang merusak setiap hari,” tandasnya.

Singgih berharap, para orang tua, lembaga pendidikan, dan tokoh agama, dan kementerian atau lembaga negara terkait, memperkuat benteng moral bagi anak-anak sejak dini. Ketahanan keluarga menjadi filter utama dalam menangkal paparan LGBT yang begitu bebasnya di dunia maya.

Dia pun menyinggung praktik homoseksual yang acapkali melibatkan unsur kekerasan, pencabulan, korban di bawah umur, atau publikasi pornografi. Sejatinya, hal itu sudah diatur dalam Pasal 414 dan 416 KUHP baru. Namun itu belum cukup, diperlukan penguatan hukum secara sektoral.

Selanjutnya, Komisi VIII DPR siap membuka ruang diskusi mendalam bersama fraksi-fraksi lain di DPR, dan pemerintah untuk mengkaji penguatan regulasi, demi memberikan efek jera yang jelas bagi para pengampanye LGBT.

“Kami ingin memastikan bahwa ruang publik kita, baik fisik maupun digital, tetap aman, sehat, dan beradab. Komisi VIII akan terus mengawal aspirasi umat dan para ulama demi menjaga martabat serta moralitas bangsa Indonesia,” kata dia.  

Pandangan senada disampaikan psikolog senior asal UI, Tika Bisono. Dia setuju jika pemerintah dan DPR merumuskan Undang-Undang khusus tentang LGBT. Penting karena selaras dengan posisi pemerintah Indonesia yang tidak mengakui LGBT.

“Karena Indonesia kan sudah ambil posisi tidak pro-LGBT. Jadi LGBT dianggap, ya memang kelainan gitu. Nah, kalau kelainan berarti harus ada pembatasan hak. Gitu ya kan,” ungkapnya kepada Inilah.com, Kamis (2/7).

Biang Kerok Perilaku LGBT

Munculnya perilaku LGBT ini, menurut Tika, biasanya dipengaruhi dua hal. Yakni faktor biologis atau hormonal, dan sosiologis. Maksudnya faktor biologis adalah genetik maupun hormonal yang dibawa individu sejak lahir.

Terjadi kelainan sejak tahap pembentukan kromosom khususnya sel seksualitas XX dan XY. Di mana, XX itu perempuan sedangkan XY adalah laki-laki. Jika penyebab LGBT adalah faktor biologis ini, masih bisa disembuhkan.

“Ada dua DNA yang tidak sempurna. Jadi ada X satunya besar dan satunya kecil. Atau X-nya besar dan Y-nya kecil. Ada yang dua-duanya kecil. Nah itu sindrom Turner,” ungkapnya.

Hanya saja ada pakar yang memiliki pandangan berbeda. Misalnya saja Meyer-Bahlburg dalam Carlson, 2012), menyatakan, LGBT tidak dipengaruhi hormonal. Namun dipengaruhi struktur otak.

Di mana, struktur otak homoseksual dibanding manusia normal, sangat berbeda. Disebabkan adanya paparan androgen prenatal.

Bundo Kanduang berjalan membawa spanduk saat kampanye dan deklarasi anti LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender di Padang, Sumatera Barat, Minggu (21/6/2026). (Foto:ANTARA/Fitra Yogi/YU).  

Sedangkan faktor sosiologis sebagai pemicu perilaku LGBT, menurut Tika, jumlahnya lebih dominan. Faktor sosiologis yang dimaksud adalah lingkungan, pergaulan, tontonan, budaya, dan lain-lain.

Secara psikososial, seseorang yang tadinya heteroseksual (normal), kemudian dicekoki stimulasi-stimulasi sosial bahwa LGBT lebih asyik ketimbang heteroseksual, dan sebagainya. Pelan-pelan bisa berperilaku LGBT.

“Nah ini enggak boleh dong. Ini yang dianggap sebagai kejahatan, dianggap sebagai kriminal. Dianggap sebagai intoleran terhadap heteroseksual, gitu loh,” ungkapnya.

Tika mengaku punya teman gay yang berprofesi sebagai dosen. Namun temannya itu tidak pernah mengajak orang lain untuk berperilaku sama.

Namun akhirnya meninggal karena terserang penyakit radang paru-paru atau pneumonia, yang sering disebut sebagai penyakitnya kaum gay.

Tika tak membantah bahwa kaum LGBT memiliki komunitas yang sifatnya eksklusif alias terkutuk. Dia menggunakan istilah ‘Geng Pelangi’.

Biasanya, pimpinan ‘Geng Pelangi’ akan memengaruhi agar anggotanya tetap LGBT. “Karena untuk membuat suatu keputusan mau jadi LGBT atau tidak, ya harus keputusan yang bersangkutan. Enggak boleh dipengaruhi pihak mana pun,” ungkapnya.

Apakah LGBT bisa sembuh? Tika langsung menjawab, sangat bisa. Tapi ada syaratnya, pengidapnya memang ingin sembuh. Bukan karena terpaksa. Misalnya, orang tua atau keluarga yang meminta, peluang sembuhnya kecil.

“Orangnya harus mau dulu, terpanggil dulu. Memang untuk keluar dari LGBT susah-susah gampang. Awalnya, dia sendiri yang menjauhkan diri dari lingkungan tersebut (LGBT),” terangnya.

Antara terjangkit narkoba dan LGBT, menurut Tika, beda tipis. Solusinya sama, menjauh dari komunitas yang merusak itu. Ketika keinginan itu muncul, diperkuat dengan konseling. Di sinilah psikoterapi mulai berperan untuk penyembuhan.

“Aku pernah punya pengalaman tapi bukan LGBT, tapi narkoba. Itu awalnya masalah keluarga. Semua itu, akar masalahnya pasti di keluarga. Narkoba atau LGBT bisa hanya pelarian,” tandasnya.

Untuk mencegah agar anggota keluarga tidak terjebak LGBT, Tika menyarankan keterbukaan. Para orang tua perlu memberikan wawasan atau pengetahuan yang cukup kepada para anak. Khususnya menyangkut dampak buruk perilaku LGBT.

Jangan takut untuk bersikap terbuka bahwa komunitas LGBT itu ada. Bahkan bisa jadi sudah terbentuk di lingkungan terdekat, jadi bukan hanya di medsos saja.

“Kita harus terbuka kepada anak-anak. Atau ada saudara yang kena, ya ceritakan saja. Berikan informasi yang jujur, agar para anak punya pegangan untuk tidak menjadi LGBT,” pungkasnya.

Sikap Abu-abu Menteri Pigai

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai menunjukkan sikap abu-abu alias tak tegas terhadap fenomena LGBT yang semakin terbuka di Indonesia. Dia cenderung menganggap LGBT adalah perilaku biasa.

Namun, masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai kelompok adat, suku, dan agama, secara sosiologis belum siap menerima LGBT sebagai kelompok, atau komunitas yang diatur melalui regulasi khusus.

Pigai menegaskan, setiap individu yang merupakan warga negara Indonesia, tetap memiliki hak-hak dasar yang wajib dilindungi oleh negara.

Menteri HAM, Natalius Pigai di kediaman Prabowo Subianto Jakarta Pusat. (Foto: Inilah.com/Vonita)

“Hak dia sebagai WNI, hak untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, upah, gaji, penghidupan yang layak sebagai WNI harus dijamin negara. Tetapi kalau dalam konteks regulasi sebagai kelompok atau komunitas itu belum, masyarakat Indonesia belum siap,” kata Pigai.

Lebih terang lagi, Pigai mengatakan, perlindungan negara berlaku tanpa membedakan orientasi seksual, maupun identitas seseorang. Artinya, LGBT juga punya hak hidup di negeri ini. Karena, setiap warga negara berhak memperoleh akses terhadap pendidikan, pekerjaan, serta penghidupan yang layak.

“Pemerintah tetap harus memastikan seluruh hak dasar tersebut terpenuhi, sebagai bagian dari tanggung jawab negara dalam menjamin hak asasi manusia bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Gus Abduh menyampaikan, fenomena LGBT menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, termasuk kekhawatiran para orang tua terhadap paparan konten LGBT di ruang digital yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Untuk itu, negara perlu merespons keresahan yang berkembang di masyarakat melalui mekanisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Praktik LGBT jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai agama, Pancasila, dan budaya bangsa. Ini sudah menimbulkan keresahan di masyarakat, khususnya para orang tua,” tegasnya.

Penyembuhan LGBT

Dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Theresia Novi Poespita Candra menyampaikan, ada sejumlah pandangan mengenai LGBT.

Menurut WHO (World Health Organization), organisasi kesehatan dunia di bawah PBB, menyatakan LGBT bukan sebagai kelainan atau penyimpangan. Sehingga, penyembuhan adalah sesuatu yang tidak relevan.

Namun, kata dia, kultur Indonesia, khususnya pedoman masalah kejiwaan di spesialis kedokteran jiwa, LGBT dianggap sebagai masalah kejiwaan.

Bendera Pelangi menjadi lambang kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). (Foto: Antara).

Artinya, LGBT bukan penyakit tapi dapat mengakibatkan masalah kejiwaan, seperti tekanan sosial, stres dan lainnya.

“Sehingga profesional dapat membantu menolong jika yang bersangkutan merasa mengalami masalah kejiwaan, karena apa yang dialaminya,” terang Novi kepada Inilah.com, Kamis (2/7).

Dia mengatakan, pemicu perilaku LGBT bukan faktor tunggal. Sehingga cara penyembuhannya berbeda-beda. Jika berkaitan masalah biologis, misalnya kelainan hormonal. Maka penyembuhan harus lewat medis.

“Tapi jika kecil kemungkinan, maka kita dapat membantu yang bersangkutan dalam bersikap yang tepat di kehidupan sosial. Dan, mengelola diri saat berinteraksi dengan lingkungan,” paparnya.

Jika disebabkan pola asuh keluarga. Semisal, absennya salah satu orang tua yakni ayah atau ibu, maka solusinya bisa dengan memaknai ulang pengalamannya bersama keluarga.

“Namun kalau pengaruh lingkungan, maka kita bisa mengajak yang bersangkutan memaknai ulang apakah ia akan terus berada di lingkungan itu. Atau mengubah ekosistem hidupnya,” tandasnya.  

Tapi, apabila penyebabnya adalah trauma di masa lalu, misalnya pelecehan seksual, maka perlu dilakukan sejumlah hal. Untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan trauma tersebut. 

(Penulis: Iwan Purwantono, Clara Anna)

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang