Warga melihat abu vulkanik keluar dari Gunung Dukono yang terlihat di area bekas banjir lahar dingin Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Maluku Utara, Selasa (12/5/2026). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Insiden evakuasi pendaki di Gunung Dukono, Maluku Utara, memicu evaluasi terkait standar keselamatan wisata alam ekstrem di Indonesia. Dewan Pakar Bidang Pariwisata dari BA Center, Taufan Rahmadi, mendesak pemerintah untuk segera memperkuat kompetensi para pemandu di jalur pendakian gunung seluruh Indonesia.
Menurut Taufan, pemandu pendakian tidak boleh hanya sekadar hafal jalur, tetapi wajib memiliki keahlian mitigasi bencana yang mumpuni.
“Kapasitas pemandu pendakian memang harus diperkuat karena mereka adalah garda terdepan keselamatan wisatawan di lapangan,” tegas Taufan di Jakarta, Selasa (12/5) dikutip dari Antara.
Wajib Kuasai Mitigasi dan Respons Darurat
Taufan menjelaskan, wisata gunung api berstatus aktif memiliki risiko tinggi yang tidak boleh diremehkan. Oleh karena itu, langkah mitigasi menjadi syarat mutlak untuk menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan.
Para pemandu dituntut untuk memahami karakter gunung api aktif, mampu membaca zona bahaya, serta menguasai prosedur evakuasi darurat. Lebih jauh, kemampuan respons darurat (emergency response) juga menjadi aspek krusial yang harus terus dilatih.
“Pemandu diharapkan mendapatkan pelatihan mengenai pertolongan pertama, survival dasar, komunikasi darurat, dan simulasi penyelamatan,” paparnya.
Selain keterampilan teknis, Taufan juga menekankan pentingnya ketegasan pemandu di lapangan. “Pemandu harus berani mengedepankan aspek keselamatan, termasuk menolak wisatawan yang melanggar SOP (Standar Operasional Prosedur) atau nekat masuk ke zona berbahaya,” imbuhnya.
Dorong Keterlibatan Kementerian Pariwisata
Untuk mewujudkan standar keamanan yang profesional, Taufan mendorong Kementerian Pariwisata (Kemenpar) agar lebih aktif merancang program pelatihan berbasis safety tourism dan disaster awareness (kesadaran bencana). Peningkatan kompetensi pemandu ini dinilai akan berbanding lurus dengan terciptanya aturan tegas yang wajib dipatuhi oleh seluruh pendaki.
Insiden di Gunung Dukono, lanjut Taufan, harus menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku industri pariwisata alam. Ia mengingatkan bahwa aspek keselamatan adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Di dalam industri pariwisata, keamanan itu menjadi hal yang utama. Safety first itu adalah sesuatu yang prioritas, tidak ada pengalaman wisata yang sebanding dengan kehilangan nyawa,” pungkas Taufan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













