Beda Proyeksi ADB dengan Bank Dunia, Ekonomi RI Sedang Diuji

Reza Medium.jpeg

Minggu, 19 April 2026 – 20:38 WIB

Ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi. (Foto: ANTARA/ist).

Ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi. (Foto: ANTARA/ist).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai ekonomi Indonesia masih berpeluang tumbuh di atas lima persen pada 2026. Meski demikian, prospek tersebut dibayangi oleh ketidakpastian global dan perbedaan proyeksi dari sejumlah lembaga internasional.

Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menyatakan ketahanan ekonomi nasional saat ini sedang diuji oleh tekanan eksternal yang semakin kuat, terutama akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi.

“Situasi ini merupakan ujian nyata bagi kesehatan ekonomi nasional. Kita harus melihat secara jeli apakah ekonomi kita benar-benar masih sehat atau mulai melorot di bawah tekanan eksternal,” kata Herry dalam keterangannya, Minggu (19/4/2026).

Kondisi global tersebut memicu perbedaan pandangan antarlembaga internasional. Bank Dunia dalam laporan terbarunya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,0 persen menjadi 4,7 persen. Angka ini lebih rendah dari realisasi pertumbuhan tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,11 persen.

Sebaliknya, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh hingga 5,2 persen pada 2026, lebih tinggi dari capaian tahun sebelumnya. Menurut Herry, perbedaan angka ini menunjukkan penilaian terhadap daya tahan ekonomi Indonesia masih sangat dinamis.

“Perbedaan angka proyeksi ini membuktikan bahwa faktor ketidakpastian global sangat memengaruhi penilaian terhadap daya tahan ekonomi Indonesia di tahun 2026,” ujar Herry.

Sebagai dasar penilaian arah ekonomi yang lebih objektif, NEXT Indonesia Center menggunakan Composite Leading Indicator (CLI) yang dirilis oleh OECD. “Sinyal CLI adalah kompas arah ekonomi,” pungkasnya.

Berdasarkan data Maret 2026, CLI Indonesia nangkring di level 100,52. Angka di atas ambang 100 ini menandakan ekonomi masih dalam fase ekspansi.

“Data CLI kita masih berada di atas level 100, yang artinya secara fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki napas untuk tumbuh di atas rata-rata tren jangka panjangnya,” sebut Herry.

Namun, Herry memberikan catatan merah. Terjadi penurunan tipis dari posisi 100,59 pada Februari ke 100,52 di Maret 2026. Pelemahan ini menjadi peringatan dini bagi motor utama ekonomi RI, yakni konsumsi rumah tangga yang menyumbang 53,9 persen terhadap PDB.

“Kita tidak boleh menutup mata terhadap moderasi yang mulai terjadi di awal 2026. Jika tidak ada intervensi kebijakan yang adaptif untuk menjaga daya beli, target pertumbuhan bisa meleset,” tegasnya.

Ia mewanti-wanti pemerintah agar segera memperkuat kebijakan fiskal dan melindungi daya beli kelas bawah supaya perlambatan tidak makin dalam. “Sinyal CLI adalah kompas arah ekonomi,” pungkasnya.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang