Agresi Langit Elon Musk: SpaceX Kantongi Izin Luncurkan 7.500 Satelit Starlink Tambahan

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 12 Januari 2026 – 19:29 WIB

FCC izinkan SpaceX tambah 7.500 satelit Starlink Gen2. (Foto: Associated Press/John Raoux)

FCC izinkan SpaceX tambah 7.500 satelit Starlink Gen2. (Foto: Associated Press/John Raoux)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ambisi Elon Musk untuk ‘mengepung’ Bumi dengan jaringan internet satelit kian tak terbendung. Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) baru saja memberikan lampu hijau bagi SpaceX untuk meluncurkan 7.500 satelit Starlink generasi kedua (Gen2) tambahan.

Laporan Tech Crunch pada Sabtu (10/1/2026) menyebutkan bahwa keputusan ini secara otomatis menggandakan kekuatan Starlink. Dengan restu terbaru tersebut, total satelit yang diizinkan beroperasi di orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO) kini mencapai angka fantastis: 15.000 unit.

Bukan Sekadar Internet, tapi Koneksi Langsung ke Ponsel

Keputusan FCC ini bukan sekadar soal menambah jumlah ‘benda terbang’ di langit. Izin tersebut mencakup perluasan operasional pada lima frekuensi berbeda yang memungkinkan Starlink melesat lebih cepat.

Satu hal yang paling revolusioner adalah izin untuk menyediakan konektivitas langsung ke ponsel (direct-to-cell). Artinya, di masa depan, ponsel biasa pun bisa menangkap sinyal Starlink tanpa perlu antena parabola khusus, baik untuk pengguna di Amerika Serikat (AS) maupun pasar internasional.

FCC Pasang ‘Rem’ dan Tenggat Waktu

Meski memberikan izin besar, FCC tidak lantas mengabulkan semua permintaan SpaceX. Awalnya, perusahaan milik orang terkaya dunia itu mengajukan tambahan 15.000 satelit. Namun, FCC memilih menunda sisa izin hampir 15.000 unit lainnya demi memantau perkembangan situasi di luar angkasa.

SpaceX juga tidak bisa santai. FCC memberikan tenggat waktu yang ketat:

  • 50 persen satelit tambahan wajib meluncur paling lambat 1 Desember 2028.
  • 50 persen sisanya harus sudah mengorbit pada Desember 2031.

Penetrasi di Indonesia

Starlink, dengan teknologi latensi rendahnya, memang menjadi solusi bagi area-area terpencil yang selama ini “haram” tersentuh kabel serat optik. Kehadirannya memungkinkan aktivitas berat seperti streaming 4K, gaming online, hingga panggilan video berjalan mulus di tengah hutan maupun pulau terluar.

Layanan ini pun sudah resmi mengaspal di Indonesia. Dengan tambahan ribuan satelit baru ini, kapasitas dan kecepatan internet Starlink di Tanah Air diprediksi akan semakin stabil, sekaligus memperketat persaingan dengan penyedia layanan internet lokal.