Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.960/US$ usai kabar pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Inilah.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dalam sepekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) mengalami pelemahan Rp13 atau setara 0,07 persen.
Pada perdagangan Senin (27/7), rupiah dibuka melemah 6 poin (0,03 persen) ke level Rp17.969/US$. Kala itu, pelemahan rupiah terjadi menyusul pengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Kurs rupiah kemudian terus melemah hingga 46 poin atau setara 0,26 persen, ke level Rp18.009 per dolar AS. Keesokan harinya, rupiah dibuka melemah 65 poin (0,36 persen), ke level Rp18.074/US$. Selanjutnya terus melemah hingga 74 poin (0,41 persen) ke level
Rp18.083/US$ saat penutupan perdagangan.
Pada Rabu (29/7), rupiah dibuka melemah 26 poin (0,14 persen) ke level Rp18.109 per dolar AS, namun ditutup menguat tipis 10 poin (0,06 persen) ke level Rp17.073/US$.
Selanjutnya, Kamis (30/7), rupiah kembali loyo 2 poin yang setara 0,01 persen ke level Rp18.075/US$. Selanjutnya ditutup melemah 38 poin (0,21 persen) menjadi Rp18.111/US$.
Pada Jumat (31/7), rupiah dibuka menguat 37 poin atau setara 0,20 persen ke level Rp18.074/US$. Penguatan ini bertahan hingga ditutup menguat 89 poin (0,49 persen), menjadi Rp18.022/US$.
Mata Uang di Asia Lainnya Malah Menguat
Mungkin hanya rupiah yang apes. Berbeda nasib dengan sejumlah mata uang di kawasan Asia lainnya yang justru menguat dalam sepekan ini.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah memang ditutup menguat 0,47 persen ke posisi Rp17.990/US$ di perdagangan Jumat (31/7/2026). Namun jika dihitung sepekan, mata uang Garuda justru masih melemah 0,31 persen.
Kinerja tersebut menjadi yang terburuk dibandingkan mata uang Asia lainnya. Tekanan yang dialami rupiah semakin mencolok, karena indeks dolar AS justru nyungsep 1,53 persen di sepanjang pekan, ke posisi 99,914.
Jika ditarik lebih panjang, rupiah terdepresiasi 0,64 persen sepanjang Juli. Mata uang Garuda sempat kembali berada di atas level Rp18.000/US$ di tengah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memunculkan kekhawatiran mengenai transisi kepemimpinan dan independensi bank sentral.
Pergerakan rupiah sayangnya harus bergerak terbalik dibandingkan performa mata uang Asia lainnya, pada pekan terakhir Juli 2026. Dari 10 mata uang, sembilan berhasil menguat dan hanya rupiah yang berakhir di zona merah.
Yen menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah melesat 3,83 persen dalam sepekan. Disusul won Korea dengan penguatan 1,17 persen.
Penguatan juga dicatat baht Thailand sebesar 0,80 persen, peso Filipina 0,74 persen, dan dolar Singapura 0,64 persen. Sedangkan yuan China naik 0,31 persen, diikuti dong Vietnam sebesar 0,13 persen. Dan, ringgit Malaysia menguat 0,12 persen, serta dolar Taiwan menguat 0,08 persen.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













