Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P Roeslani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P Roeslani menyampaikan, realisasi investasi sektor hilirisasi di triwulan III-2026, mencapai Rp152,7 triliun.
Menurutnya, nilai tersebut meningkat 5,7 persen dan berkontribusi 29,8 persen terhadap total realisasi investasi pada periode yang sama. Hal ini disampaikan Rosan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dikutip Jumat (17/7/2026) usai diterima Presiden RI Prabowo Subianto.
“Investasi di bidang hilirisasi, untuk triwulan ketiga Rp152,7 triliun atau peningkatan 5,7 persen, dan total realisasi investasinya ini hampir mencapai 30 persen atau 29,8 persen dari total realisasi investasi triwulan ketiga di tahun 2026,” kata Rosan.
Dia menjelaskan, triwulan III-2026 terjadi pergeseran dalam komoditas utama hilirisasi. Jika sebelumnya nikel kerap menjadi kontributor terbesar, pada periode ini bauksit menempati posisi teratas.
“Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel, nah ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri,” ucapnya.
Rosan menjelaskan, pergeseran tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi di Indonesia tidak hanya bertumpu pada satu komoditas.
Pemerintah terus mendorong pengembangan hilirisasi pada berbagai sektor yang memiliki potensi besar dan keunggulan kompetitif, termasuk kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan sektor-sektor lain yang masuk dalam peta jalan hilirisasi nasional.
“Tapi harapannya kita tetap ingin mendorong hilirisasi atau turunan dari kelapa sawit dan lain-lainnya, tetapi tidak berhenti, karena hilirisasi yang kita lakukan ini lebih banyak mungkin hilirisasi, kalau kita bilang baru step pertama atau step kedua,” tuturnya.
Rosan mencontohkan hilirisasi nikel sebagai salah satu sektor yang ekosistemnya telah berkembang lebih lengkap. Menurutnya, rantai nilai hilirisasi nikel Indonesia saat ini sudah mencakup berbagai tahapan, mulai dari bahan mentah hingga ekosistem baterai kendaraan listrik.
“Tetapi kalau nikel memang sudah hampir the whole ecosystem tentunya yang berhubungan dengan EV battery, sampai dengan dari nikel ore, nikel sulfat, nikel matte, katoda, anoda, kemudian battery cell, battery pack, kemudian battery recycling, kita sudah mempunyai the whole ecosystem-nya,” paparnya.
Dia memastikan, pemerintah ingin pengembangan ekosistem serupa juga dilakukan pada komoditas lain, termasuk bauksit, kelapa sawit, karet, kayu, dan pasir silika. Dorongan tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.
Kata Rosan, prioritas hilirisasi pemerintah disusun berdasarkan cetak biru nasional, terutama pada sektor-sektor yang memiliki keuntungan kompetitif dari sisi cadangan maupun potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.
“Nah karena kita melihat yang kita memang prioritaskan yang di mana memang ada dalam blueprint kita yang mengenai hilirisasi, dan sudah kita mempunyai competitive advantage misalnya dari banyaknya cadangan atau reserve yang kita punyai di Indonesia ini,” ucapnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













