Kalah Tragis dari Argentina, Mo Salah Kumpulkan Pemain Mesir di Ruang Ganti: Ini Kehendak Allah

Suasana ruang ganti tim nasional Mesir di Stadion Atlanta seketika hening usai peluit panjang berbunyi. Langkah The Pharaohs terhenti secara menyakitkan di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah tumbang 2-3 dari juara bertahan Argentina, Selasa (7/7/2026) waktu setempat.

Padahal, Mesir sudah berada di ambang sejarah besar. Hingga menit ke-78, mereka masih memimpin dua gol tanpa balas. Namun, dewi fortuna berpaling di 11 menit terakhir. Argentina bangkit lewat gol Cristian Romero (79′) dan Lionel Messi (83′), sebelum akhirnya Enzo Fernandez mengubur mimpi Mesir lewat gol penentu di masa injury time.

Di tengah duka dan kepala yang tertunduk lesu, sang kapten, Mohamed Salah, mengambil alih panggung. Alih-alih meratapi nasib, bintang Liverpool itu langsung mengumpulkan seluruh pemain di ruang ganti.

Melansir laporan beIN Sports, Rabu (8/7/2026), Salah berdiri di depan rekan-rekannya dan menyampaikan pidato emosional yang membakar semangat. Ia menegaskan bahwa apa yang dicapai Mesir di turnamen ini tetaplah sebuah kebanggaan besar.

“Ini Awal dari Sesuatu yang Jauh Lebih Besar”

Bagi Mo Salah, skuad Mesir tahun ini telah menorehkan tinta emas yang tidak perlu dinodai dengan rasa sesal berlebih. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola mereka, Mesir berhasil lolos dari kutukan fase grup dan menembus babak gugur Piala Dunia.

“Saya bangga kepada kalian. Kalian berjuang sampai akhir dan menunjukkan semangat sejati Mesir. Ini bukan akhir, tetapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar,” ujar Mo Salah di hadapan para pemain yang tampak emosional.

Pemain berusia 34 tahun itu juga menyentuh sisi spiritual untuk menenangkan ruang ganti yang sempat terpukul hebat.

“Sangat tidak beruntung, tapi ini sudah berakhir. Ini adalah ketetapan dan kehendak Allah atas apa yang telah terjadi. Mari kita jadikan ini sebagai modal untuk berkembang, dan apa yang akan datang di depan akan jauh lebih baik, insya Allah,” imbuhnya.

Mo Salah juga tak lupa menyampaikan apresiasi mendalam kepada jutaan suporter Mesir yang tak berhenti memberikan dukungan sepanjang turnamen. Ia meminta para pemain muda Mesir menjaga kepercayaan diri mereka demi masa depan tim nasional.

Semprot Wasit dan Protes Jadwal ‘Jam Makan Siang’

Jika Mo Salah memilih berpasrah dan berbesar hati, atmosfer berbeda justru datang dari sang juru taktik, Hossam Hassan. Pelatih berusia 59 tahun itu meradang dan langsung melayangkan kritik keras terhadap performa wasit asal Prancis, Francois Letexier.

Diwawancarai oleh Reuters, Hassan blak-blakan menyebut anak asuhnya telah dirampok oleh keputusan pengadil lapangan yang dinilainya berat sebelah.

“Ibaratnya, kami diperlakukan tidak adil hari ini. Kami mengalami sebuah ketidakadilan yang nyata,” ketus Hassan dengan nada tinggi.

Hassan menyoroti dua momen krusial yang mengubah jalannya laga. Pertama, keputusan VAR yang membatalkan gol kedua Mesir yang seharusnya bisa mengunci kemenangan lebih awal. Kedua, keengganan wasit untuk meninjau ulang insiden tekel keras di kotak penalti Argentina pada masa injury time yang menimpa Mohamed Salah.

Kekesalan Hassan ternyata sudah menumpuk bahkan sebelum laga dimulai. Ia mengungkapkan bahwa Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) sebenarnya sudah mengajukan protes resmi terkait penunjukan Letexier sebagai pengadil.

Tak berhenti di situ, jadwal kick-off yang dimainkan pada pukul 12.00 siang waktu setempat juga tak luput dari semprotan sang pelatih. Menurutnya, waktu tersebut sangat tidak ideal untuk sebuah pertandingan akbar di level Piala Dunia.

“Anda tidak pernah menjadwalkan pertandingan sepak bola pada pukul 12 siang. Pada jam itu, orang-orang biasanya sedang jalan-jalan santai atau makan siang, bukan dipaksa bermain sepak bola dengan intensitas tinggi,” ujarnya sinis.

Meski demikian, Hassan tetap memuji performa spartan anak asuhnya yang mampu membuat repot sang juara bertahan. “Kami lebih baik daripada juara bertahan dalam segala hal, kecuali hasil akhirnya. Sayangnya, ada faktor-faktor di dalam maupun di luar lapangan yang memengaruhi hasil pertandingan ini,” tutupnya.

Dengan hasil ini, Argentina berhak melaju ke babak perempat final untuk menantang Swiss, sementara Mesir harus pulang dengan kepala tegak membawa sejarah baru.