Bursa Global Menghijau, IHSG Ikut Menguat Pagi Ini

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 3 Juli 2026 – 11:23 WIB

Ilustrasi lantai bursa di Gedung BEI, Jakarta. (Foto: Antara)

Ilustrasi lantai bursa di Gedung BEI, Jakarta. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan akhir pekan dengan catatan manis. Pada Jumat (3/7/2026) pagi, indeks pasar modal domestik ini bergerak naik signifikan, mengekor tren menghijau yang melanda bursa saham kawasan Asia dan global.

IHSG dibuka melesat 61,61 poin atau 1,07 persen ke posisi 5.806,17. Sejalan dengan itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga ikut terdongkrak dengan naik 6,97 poin atau 1,23 persen ke posisi 572,46.

Meskipun dibuka bertenaga, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan rentang pergerakan indeks sepanjang hari ini. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa posisi IHSG saat ini masih memiliki sejumlah catatan teknikal yang krusial.

“Selama IHSG masih berada di bawah 5.762 hingga 5.853, indeks sebenarnya masih berisiko melanjutkan pelemahan menuju support 5.678, kemudian ke area 5.607 sampai 5.523 sebagai support berikutnya,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta.

Sebaliknya, ada peluang besar jika laju penguatan ini terus konsisten. Menurut Liza, jika IHSG mampu menembus level 5.762 atau 5.806, dan berlanjut di atas 5.853 dengan didukung peningkatan volume transaksi, IHSG berpeluang menguji tingkat resistance di 5.904, kemudian 5.974, hingga menuju area psikologis 6.000.

Tensi Timur Tengah Mereda, Angin Segar dari The Fed

Melesatnya IHSG pagi ini tidak lepas dari rangkaian sentimen positif global. Dari panggung mancanegara, bursa kawasan Asia dan global kompak menguat seiring terus meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini menyusul adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, yang secara langsung mendorong normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

“Kondisi tersebut membantu menjaga stabilitas pasokan energi global, serta meredakan tekanan terhadap harga minyak dan ekspektasi inflasi,” kata Liza menambahkan.

Tak hanya itu, pasar juga merespons positif pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh. Ia menegaskan bahwa bank sentral AS tersebut tidak akan lagi memberikan forward guidance secara eksplisit dalam menentukan arah kebijakan moneternya ke depan.

Warsh menyampaikan bahwa risiko inflasi global mulai mereda seiring turunnya harga minyak dunia. Situasi ini memberikan ruang yang cukup aman bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa perlu melakukan pengetatan moneter lebih lanjut, asalkan kondisi ekonomi tetap stabil. 

Sentimen ini kian solid setelah laporan ketenagakerjaan AS tercatat lebih lemah dari ekspektasi, yang otomatis menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini.

Amunisi Dalam Negeri dan Rapor Bursa Dunia

Dari dalam negeri, kepastian arah kebijakan fiskal turut memberikan ketenangan bagi investor. DPR bersama pemerintah telah menyepakati kerangka awal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Dalam kesepakatan tersebut, pendapatan negara ditargetkan sebesar 12,01 hingga 12,40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan rasio penerimaan pajak di angka 10,16 sampai 10,50 persen PDB. Sementara itu, defisit anggaran akan dijaga ketat pada kisaran 1,80 hingga 2,40 persen PDB, dan rasio utang diproyeksikan berada di angka 40,31 sampai 40,64 persen PDB.

Pemerintah juga telah menetapkan asumsi makro dasar untuk tahun 2027 sebagai berikut:

  • Pertumbuhan ekonomi: 5,8 – 6,5 persen
  • Inflasi: 1,5 – 3,5 persen
  • Nilai tukar rupiah: Rp16.800 – Rp17.500 per dolar AS
  • Harga minyak mentah Indonesia (ICP): US$70 – US$95 per barel

Selain postur anggaran, sentimen positif domestik datang dari langkah cepat pemerintah dalam mempercepat pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) melalui RUU PFII. Kawasan khusus (enclave) ini nantinya akan menawarkan berbagai insentif menggiurkan, mulai dari pembebasan pajak hingga penerapan sistem hukum komersial berstandar internasional yang mengadopsi praktik terbaik dari Dubai dan Abu Dhabi.

Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak daya tarik investasi asing secara masif serta memperkuat posisi strategis Indonesia sebagai pusat keuangan regional.

Sebagai cerminan pergerakan global, pada perdagangan Kamis (2/7/2026) kemarin, bursa saham Eropa ditutup kompak menguat. Euro Stoxx 50 naik 1,35 persen, FTSE 100 Inggris terangkat 1,67 persen, DAX Jerman melesat 2,16 persen, dan CAC 40 Prancis terkerek 1,65 persen.

Di AS, Wall Street juga mayoritas parkir di zona hijau pada Kamis malam. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,14 persen dan S&P 500 naik tipis 0,01 persen, walaupun Nasdaq Composite harus rela melemah 1,61 persen.

Kondisi tersebut menular ke bursa saham regional Asia pada Jumat pagi ini. Indeks Nikkei menguat 0,62 persen ke 69.256,00, indeks Shanghai naik 0,35 persen ke 4.043,00, indeks Hang Seng melompat 1,65 persen ke 23.400,00, indeks Kospi terbang 2,27 persen ke 7.822,03, dan indeks Straits Times menguat tipis 0,17 persen ke level 5.226,00.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang