BI Kerek Lagi Suku Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen, Indef: Hati-hati Ekonomi Macet

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 21 Juni 2026 – 11:04 WIB

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers melalui streaming di Jakarta. (Foto: Dok. Bank Indonesia)

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers melalui streaming di Jakarta. (Foto: Dok. Bank Indonesia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bertubi-tubi Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI rate yang semula 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Katanya untuk menjaga stabilitas nilai tukar namun tetap saja risikonya besar. Menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurrahman menyebut, suku bunga acuan sebesar 5,75 persen, memang cukup rasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi berupa meningkatnya biaya pembiayaan (cost of fund), sehingga berpotensi menahan laju pertumbuhan kredit, investasi, dan konsumsi rumah tangga,” kata Rizal di Jakarta, dikutip Minggu (21/6/2026).

Di sisi lain, Rizal menilai, kenaikan suku bunga dapat memberikan sentimen positif terhadap rupiah. Karena meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, dan membantu meredam tekanan arus keluar modal.

Meski demikian, penguatan rupiah tidak hanya ditentukan oleh BI Rate, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika global seperti arah kebijakan bank sentral utama, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), dan sentimen investor internasional.

“Karena itu, dampaknya terhadap rupiah kemungkinan lebih bersifat menjaga stabilitas daripada mendorong penguatan yang signifikan,” ujarnya.

Dia berpandangan kebijakan moneter yang lebih ketat perlu diimbangi dengan langkah fiskal dan reformasi struktural yang mampu mendorong sektor riil.

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat investasi, menjaga daya beli masyarakat, dan meningkatkan produktivitas industri agar stabilitas yang tercipta tidak dibayar dengan perlambatan ekonomi yang terlalu dalam.

“Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, karena keduanya merupakan prasyarat penting bagi pemulihan ekonomi yang berkelanjutan,” ucap dia.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) sebelumnya memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Hal ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulanan periode Juni 2026 yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan suku bunga deposit facility juga meningkat sebesar 25 bps, menjadi 4,75 persen, dan suku bunga lending facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global,” ujar Perry, Kamis (18/6).

Selain itu, kebijakan ini juga merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus-minus 1 persen sesuai yang ditetapkan pemerintah.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan pro-growth.

Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang